Kamis, 14 November 2013

Dakwah Mush'ab bin Umair



     Suatu hari, As’ad bin Zurarah dengan Mush’ab bin ‘umair pergi ke perkampungan kabilah Asyhal dan kabilah Dhafar di seputar kota Yatsrib. Kedua
orang itu masuk ke perkebunan kabilah Dhafa, dan berkumpul bersama-sama orang yang telah memeluk Islam. As’ad bin Zurarah termasuk pemeluk Islam pertama dari kota Yatsrib. Ia memeluk Islam pada saat kedatangannya ke kota Makkah. Ketika itu ia berjumpa dengan Rasulullah saw. dan melakukan Baiat Aqabah yang pertama.
     Saat Itu, Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair termasuk kepala kabilah yang terpandang. Begitu mendengar kabar tentang dakwah Islam, Sa’ad berkata kepada Usaid, “Usaid, pergilah kepada kedua orang itu, dan cegahlah mereka untuk membuat kekacauan di tempat ini. Sebab, aku masih memiliki hubungan (keluarga) dengan Asad bin Zurarah, sehingga aku enggan bertemu dengannya.”
     Dengan menggenggam tombak, Usaid berangkat menemui kedua orang itu. Sesampainya di sana, dia menegur dengan keras, “Apakah kedatangan kalian berdua di daerah ini akan mengacau ketenangan yang ada? Apakah kalian akan menghasut orang banyak untuk melawan kami? Oleh karena itu, jika kalian masih sayang dengan jiwa kalian, kami meminta untuk segera meninggalkan tempat ini”
     Mush’ab bin Umair menjawab dengan tenang, “Apakah engkau dapat duduk sebentar saja. Apabila engkau mau menerima ajaran ini, silakan diterima, dan jika tidak suka, boleh engkau tolak.”
     Usaid bin Hudhair menjawab, “ya, silakan saja. Aku akan mendengarkan dulu.”
Setelah Usaid duduk, Mush’ab bin Umair menerangkan kepadanya ajaran Islam, dan membacakan kepadanya ayat-ayat al-Quran. Hal itu didengarkan dan disimak oleh Usaid dengan tekun dan penuh rasa takjub. Ia kemudian berkata, “Sungguh, amat bagus ajaran al-Quran yang engkau baca itu. Bagaimana caranya aku masuk ke dalam agamamu?”
     Dijawab, “Jika engkau masuk Islam, terlebih dulu engkau harus mandi, lalu bersihkan pakaianmu. Setelah itu, engkau membaca syahadat dan menunaikan shalat.”
     Usaid menuruti penuturan Mushab. Usal shalat Ia berkata, “Aku mempunyai teman yang jika orang itu mau menerima ajaranmu, pasti akan diikuti (orang banyak).”
     Kemudian, Ia pun kembali ke tempat Sa’ad yang tengah menunggu kedatangannya. Ketika itu, Sa’ad melihat kedatangan Usaid dan berkata kepada kaumnya, “Demi Allah, aku yakin Usaid datang dengan wajah yang berlainan dengan wajahnya tadi sewaktu dia berada di tengah-tengah kalian.” (lbn Katsir, aI-Bidäyah Wa an-Nihâyah, jld. 111/152).
     Begitulah sikap Mush’ab bin Umair, orang yang ditugaskan oleh Rasulullah saw. mengajarkan Islam dan mendakwahkannya di kota Yatsrib. Ia memiliki sikap tenang, berani dan bijaksana. Apakah para pengemban dakwah juga memiliki sifat-sifat seperti yang dimiliki Mush’ab bin Umair? [AF]

Rabu, 13 November 2013

Cinta Rasulullah



Dalam sejarah Islam kita akan mendapati betapa kesetiaan dan kecintaan para sahabat yang tiada taranya terhadap Nabi Muhammad SAW. Zaid bin Ad Du-Tsunnah ketika hendak dihukum pancung kaum Quraisy, oleh Abu Sufyan ditanya, ''Zaid! Relakah engkau andai kata Muhammad berada pada tempatmu, sedangkan engkau aman tenteram di tengah-tengah keluargamu?

'' Dengan tegas Zaid menjawab, ''Jangan kan yang itu, bahkan di saat aku dalam keadaan seperti sekarang ini, aku tak akan rela andai kata Rasulullah dicucuk duri di rumah beliau.'' Menyaksikan betapa cinta Zaid dan bersedianya dia menebus Rasulullah dengan jiwa raganya, Abu Sufyan menggeleng-gelengkan kepala.

Katanya, ''Saya belum pernah melihat seseorang yang dicintai oleh para sahabatnya seperti mereka mencintai Muhammad.'' Kemudian Zaid dipancung batang lehernya, gugur sebagai syahid. Zaid melambangkan cinta kasih, iman, dan loyalitas yang tidak ada taranya terhadap Islam.

Seorang tawanan Quraisy lainnya adalah Khubaib bin Ady. Ketika hendak dipancung, dia terlebih dahulu minta dibolehkan shalat dua rakaat. Setelah shalat, ia berkata, ''Demi Allah! Andai kata aku tidak khawatir kalian menyangka aku gentar menghadapi maut, niscaya shalatku akan lebih panjang lagi.''

Sebelum dibunuh ia disalib dulu. Ketika itu Khubaib mengarahkan pandangannya yang memancarkan kilatan seraya berdoa, ''Ya Allah! Bilanglah jumlah mereka! Bunuhlah mereka satu demi satu, dan janganlah seorang pun dari mereka ditinggalkan!'' Mendengar doa itu pihak Quraisy terperanjat dan bertiarap, khawatir terkena kutukan doanya.

Mengetahui dirinya akan dihukum mati, Khubaib yang menjadi tawanan tokoh Quraisy Uqbah bin Harris terlebih dulu meminta pisau cukur untuk membersihkan dirinya dalam menghadapi maut. Ketika sedang bercukur, tiba-tiba anak yang empunya rumah yang baru pandai berjalan tertatih-tatih mendatanginya. Anak tadi duduk di atas pangkuannya, dan Khubaib membelainya dengan mesra.

Tatkala istri Uqbah melihat anaknya dalam keadaan serupa itu, dengan cemas diambilnya anak itu dan dibawanya pergi. Khubaib pun berkata, ''Anda khawatir kalau-kalau anak itu saya bunuh.
Ketahuilah, bahwa agama saya melarang penganutnya bertindak khianat. Karena itu, anak Anda ini tidak akan saya cederai, apalagi membunuhnya.''

Pernah seorang pemuka Quraisy di Mekah begitu kagum mendapati kesetiaan para sahabat terhadap Rasulnya, hingga ia mengatakan, ''Aku pernah menyaksikan Kisra di Persia, Kaisar di Byzantium, dan Najasi di Etiopia. Namun, aku tidak pernah menyaksikan seorang raja di tengah-tengah kaumnya, seperti Muhammad di tengah-tengah sahabat-sahabatnya.

Sesungguhnya mereka tidak akan menyerahkan Muhammad walau bagaimanapun.'' Begitulah seharusnya sikap umat Islam kepada Rasulullah Muhammad SAW. Karena Rasulullah sudah wafat, kecintaan kepada beliau adalah dengan mengamalkan ajarannya dan meneladani perilakunya.

 Sumber: Alwi Sihab

Selasa, 12 November 2013

penyakit hati ( Galau)

Assalamualaikum Wr Wb.
Selamat pagi, moga di pagi ini kita selalu dilindungi Oleh Allah SWT, dalam keadaan sehat, umur panjang dimurahkan rezeki  halal lagi luas.tema yang hari ini ingin saya tampilkan hari ini adalah tentang galau, anda tahu tidak apa itu galau, kita sering mendengar orang-orang berkata apabila dia ditanya keadaannya dengan spontan bilang " Aku Lagi Galau" Galau adalah kondisi perasaan yang sedih, tak menentu, bahkan prustasi, dan perasaan lainnya yang kadang tidak dapat digambar dengan jelas.Galau merupakan salah satu penyakit hati, sebab ada hubungan dengan keadaan hati seseorang yang dia alami waktu, untuk itu disini kita coba untuk memberikan langkah-langkah untuk menghilangkan kegalauan yang sering menjangkiti hati kita, Yaitu:
1. Selalu menerima setiap kondisi dan keadaan yang kita alami, tanpa banyak protes artinya apapun yang terjadi pada diri kita selalu enjoy.
2. selalu bersyukur, sebab orang selalu bersyukur dijamin tidak akan terkena yang namanya " Galau"
3.selalu tersenyum, artinya walau pun kita ada rada-rada galau dikit, khan tidak nampak dengan penampilan kita yang selalu terseenyum, asal jangan senyum-senyum sendiri aja,hehehehe
4.Positiv thinking, artinya walaupun sedikit masalah kita selalu dapat mengambil ibrah( pelajaran yang baik) dari setiap kejadian yang kita alami.
Mudah-mudahan dengan sedikit ilmu yang kita berikan, yah yang namanya galau akan menjauh dari kehidupan kita amin ya Rabbal Alamin.. Wassalam.

Senin, 11 November 2013

Nabi Khidir memberi pengajaran

Diriwayatkan oleh Hammad bin Umar, dari A-Sara bin Khalid, dari Jakfar bin Muhammad, dari ayahnya, dari datuknya Ali bin Husain, katanya pembantu mereka pergi berlayar menaiki kapal. Ketika dia mahu mendarat tiba-tiba dia melihat di atas pantai duduk seorang lelaki yang sedang menerima hidangan makanan dari langit. Makanan itu diletakkan di hadapannya kemudian dia pun memakannya. Setelah dia kenyang, makanan itu diangkat semula ke langit. Pembantu yang merasa hairan itu memberanikan dirinya mendekati orang itu sambil berkata kepadanya: “Hamba Allah yang manakah engkau ini?” Lelaki itu berkata: “Aku adalah Khidir yang barangkali engkau sudah pernah mendengar nama itu.” Pembantu itu bertanya lagi: “Dengan (amalan) apakah didatangkan kepadamu makanan dan minuman ini?”
Lelaki itu menjawab: “Dengan nama Allah yang Maha Agung.”
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Al-Zuhdi, yang diterima dari Hammad bin Usamah, dari Mas’ar, dari Maan bin Abdul Rahman, dari Aun bin Abdullah, dari Utbah, dari Ibnu Mas’ud, mengatakan: “Ada seorang lelaki di Mesir sedang bercucuk tanam di kebunnya. Ketika itu dia sedang gelisah dan dia tunduk mengerjakan ladangnya. Ketika dia mengangkat kepalanya, tiba-tiba di melihat di hadapannya ada seorang lelaki sedang berdiri memperhatikan apa yang dilakukannya dan memandangi wajahnya. Lelaki itu berkata kepadanya: “Kuperhatikan dari tadi engkau murung dan gelisah, mengapa begitu?” Lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Tidak ada apa-apa.”
Kemudian lelaki yang datang tadi berkata: “Dunia adalah kesenangan yang sedikit dan masanya amat terhad, dan kesenangan itu dinikmati oleh orang baik dan orang jahat. Sedangkan akhirat kesenangan yang hakiki dan abadi.”
Mendengar yang demikian lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Sebenarnya saya sedih memikirkan keadaan kaum muslimin sekarang ini. Orang yang datang itu berkata: “Allah SWT akan membebaskanmu dari kesusahan kerana engkau ambil-berat terhadap nasib kaum Muslimin. Cuba tanya siapakah orangnya yang meminta kepada Allah kemudian Allah tidak memenuhi permintaannya, siapakah orang yang doanya tidak terkabul? Siapakah yang berserah kepada Allah lalu Allah tidak melindunginya?” Mus’ir berkata: “Menurut mereka orang yang memberi pengajaran itu adalah Khidir

Beruswah pada Kepemimpinan Rasulullah SAW




Selama 63 tahun hidup Rosululloh Muhammad SAW, sungguh kita telah diberikan satu deskripsi profil manusia yang penuh dengan kesempurnaan. Tersaji dengan gamblang pada kita semua, perilaku dan sikap beliau untuk menjadi uswah bagi kita agar kita menjadi insan mulia, hambah Alloh SWT yang paling bertaqwa.
Saat kita menelaah fragmentasi kehidupan beliau yang tertulis dalam siroh, ada pelajaran bagi kita tentang karakteristik dan sikap beliau sebagai pemimpin, yang lekat dalam diri beliau integrasi multi kesempurnaan. Paduan kesempurnaan antara qiyadah fikriyyah dan qiyadah sakhshiyyah. Berikut ini sekelumit uraian pelajaran yang mampu kami ungkapkan tentang karakteristik kepemimpinan beliau yang hendaknya kita jadikan uswah dalam kita memimpin, memimpin siapa saja dimana saja.

A. Kejujuran yang terbukti dan teruji
Tatkala pembangunan Ka’bah sampai pada bagian Hajar Aswad, orang-orang Quraisy saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya semula. Perselisihan itu terus berlanjut selama empat atau lima hari. Perselisihan ini semakin meruncing bahkan hampir saja menjurus pada pertumpahan darah di tanah suci. Adalah Abu Ummayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumy tampil dan menawarkan jalan keluar dengan menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima cara ini. Dengan kehendak Alloh, orang yang lewat pintu tersebut adalah Rosululloh Muhammad SAW. Tatkala mengetahui hal ini, mereka berbisik-bisik, “Inilah Al-Amin. Kami ridlo kepadanya. Inilah dia Muhammad”. (Siroh Ibnu Hisyam XII/192)
1.   Kejujuran adalah perilaku kunci yang sangat efektif untuk membangun kepercayaan (kredibilitas) sebagai seorang pemimpin, begitu pula bila sebaliknya, dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
2.   Biasakanlah selalu jujur dimulai dari hal yang paling sederhana dan kecil sekalipun, walaupun terhadap anak kecil, karena sesunggunya Allah menilai perilaku kita, yakinlah tak akan pernah untung sama sekali dengan ketidakjujuran selain kerugian yang mendera dan menghancurkan, sudah terlalu banyak bukti di sekitar kita untuk dijadikan pelajaran.
3.   Jangan sekali-kali berbohong atau terpancing untuk menambah omongan sehingga menjadi dusta walau dalam gurauan sekalipun.
4.   Jangan pernah mudah membuat janji, pastikan setiap janji yang diucapkan sudah diperhitungkan matang-matang, dan berusaha keraslah untuk memenuhi janji.
5.   Tepat waktulah dalam segala hal, jangan terlambat atau gemar menunda-nunda atau mengakhirkan.
6.   Biasakanlah memiliki data dan fakta yang jelas, dan bersikaplah terbuka.
7.   Milikilah kemampuan dan kesungguhan mengevaluasi diri, dan segera perbaiki diri begitu ditemukan kesalahan serta bertanggungjawablah dengan sungguh-sungguh dan tulus.
8.   Jangan pernah patah semangat bila didapati masa lalu kita pernah atau banyak keidakjujuran.

B. Cakap dan Cerdas
Komponen kedua yang tak kalah pentingnya adalah kehandalan dan kecakapan kita dalam melaksanakan tugas. Walaupun sangat dikenal dan teruji kejujurannya tapi kalau dalam melaksanakan tugas sering berbuat lalai dan kesalahan maka hal ini pun akan merontokkan kredibilitas.
Sebelum Perang Badar Al-Kubro, suatu sore, Rosululloh SAW mengirim mata-mata untuk mengetahui data tentang musuh. Kunci utamanya adalah secara sadar kita harus selalu belajar, melatih diri, mengembangkan kemampuan, wawasan serta keterampilan kita secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga selalu memiliki kesiapan yang memadai untuk melaksanakan tugas.
1.   Awalilah selalu dengan membuat perencanaan yang baik dan persiapan yang matang, gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan
2.   Jangan lupa selalu check and recheck, tak boleh kita melakukan sesuatu tanpa cek ulang, sangat banyak peluang kesalahan atau kegagalan yang terselamatkan dengan sikap yang selalu mengadakan pengecekan ulang.
3.   Laksanakan segala sesuatu dengan kesungguhan, sikap yang hati-hati dan cermat, jangan anggap remeh kelalaian dan kecerobohan karena semua itu biang kesalahan dan kegagalan.
4.   Selalu sempatkan untuk evaluasi dari setiap tahapan apapun yang kita lakukan, percayalah merenung sejenak untuk mengevaluasi membuat karya kita akan semakin bermutu.
5.   Nikmatilah dengan menyempurnakan apa yang bisa dilakukan, jangan pernah puas dengan setengah-setengah, jangan pula puas dengan 90%, kalau kita bisa menyempurnakannya, mengapa tidak?

C. Inovatif dan Berwawasan ke Depan.
Segala sesuatu yang ada selalu berubah, di dunia ini tidak ada sesuatu apapun yang tidak berubah. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu siapa pun yang tidak menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan maka dia akan tergilas kalah oleh perubahan tersebut.
Maka jelaslah sudah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah bahwa orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi karena berarti tak ada kemajuan dan tetinggal oleh perubahan, orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dianggap orang yang celaka, karena berarti akan tertinggal jauh dan sulit mengejar, satu-satunya pilihan bagi orang yangberuntung adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, berarti harus ada penambahan sesuatu yang bermanfaat, inilah sikap perubahan yang diharapkan selalu terjadi pada seorang muslim, sehingga tidak akan pernah tertinggal, dia selalu antisipatif terhadap perubahan, dan selalu siap menyikapi perubahan.
Berikut ini beberapa anjuran agar kita dapat selalu mengembangkan kemanpuan kreatif kita:
1.   Banyak membaca dan menulis.
2.   Banyak berdiskusi dan bertanya.
3.   Banyak melihat (mengadakan studi banding).
4.   Banyak merenung (tafakur).
5.   Banyak berbuat dan mencoba.
6.   Banyak beribadah dan berdo'a.
Mudah-mudahan kegigihan diri kita, menjaga agar karir hidup ini menjadi orang bersih, terbuka, jujur terpercaya, kita lakukan dengan tulus karena Allah semata. Selamat berjuang saudaraku sekalian, cukuplah Allah sebagai satu-satunya tujuan, pelindung, tumpuan harapan dan satu-satunya penolong kita semua.


D. Tegas tapi Rendah Hati.
Setelah paman beliau, Abu Tholib, didatangi serta diiancam para pembesar Quraisy, berkatalah ia, “ Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaumku telah mendatangiku, lalu mereka berkata begini dan begitu kepadaku. Maka hentikanlah demi diriku dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membenaniku sesuatu di luar kesanggupanku.”
Rosululloh SAW mengira pamannya akan menelantarkannya dan sudah tidak mau lagi mendukungnya. Maka beliau bersabda, “Wahai pamanku, demi Alloh, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Alloh memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya”. (Siroh Ibnu Hisyam I/226).
Seorang pemimpin dituntut untuk bersikap tegas, terutama saat berpihak pada kebenaran. Namun tidak boleh takabur, ia harus tetap rendah hati.

E. Pemberani tapi Bersahaja.

F. Kuat Fisik dan Tahan Penderitaan.
Wallahu a'lam bishshawab.
--------------------------------
Penulis adalah Dosen STIE Syari'ah Surabaya

Minggu, 10 November 2013

Berantas Kejahatan dengan Kebaikan




Ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan Mekah pada tahun 13 H, kaum kafir Quraisy dilanda rasa takut lantaran kejahatan mereka terhadap Rasulullah dan umat Islam di masa lampau. Mereka menduga akan menerima pembalasan jahat dari umat Islam.

Ternyata Rasulullah SAW mencanangkan hari itu sebagai hari pemberian maaf. Beliau mengumumkan tiga cara untuk aman bagi kaum Quraisy Mekah, satu di antaranya adalah berlindung di rumah Abu Sofyan. Abu Sofyan sebelum itu dikenal sebagai tokoh Quraisy yang sudah amat banyak berbuat jahat kepada Rasulullah. Tokoh jahat lainnya adalah Abu Jahal dan Abu Lahab yang saat itu sudah meninggal dunia.

Selanjutnya, Rasulullah SAW mengumpulkan semua tentara Islam dalam sebuah barisan dan memanggil Abu Sofyan. Rasulullah menyatakan bahwa mulai hari itu mengangkat Abu Sofyan sebagai pimpinan tentara Islam yang sedang berbaris di depannya. Rasa takut dan kecut di dada Abu Sofyan dan kaum kafir Quraisy berubah menjadi lega dan haru kendati masih bercampur rasa malu.

Rasulullah SAW dan umat Islam ternyata tidak membalas kejahatan kaum kafir Quraisy dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, Rasulullah memperlakukan mereka secara baik dan manusiawi.
Memang, begitulah sebenarnya tuntunan Allah SWT. Firman-Nya: ''Tidaklah sama kejahatan dan kebaikan.

Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang baik, sehingga orang yang bermusuhan antara engkau dan dia seolah-olah teman yang setia.'' (As-Sajadah: 34).
Memang benar, perlakuan baik itu telah membuat Abu Sofyan segera menarik tangan Rasulullah SAW dan mengucapkan dua Kalimat Syahadat untuk memeluk Islam.
Langkah Abu Sofyan diikuti orang-orang kafir lainnya.

Saat itulah turun surat An-Nashr: ''Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah (Islam) berbondong-bondong. Maka, bertasbihlah dengan memuji Tuhan engkau dan minta ampunlah. Sesungguhnya Allah itu Maha Penerima tobat.''

Dari situ terlihat bahwa Islam sangat antikejahatan. Islam mengajarkan umatnya untuk memberantas kejahatan dengan kebaikan. Sehingga, kejahatan itu tidak berlanjut dan bahkan membuahkan hubungan baik antara pelaku kejahatan dan korban kejahatan. Terbukti dengan balasan baik dari Rasulullah, Abu Sofyan memeluk Islam. Di belakang hari anak cucu Abu Sofyan menjadi pemimpin-pemimpin Islam.

Bila kejahatan diberantas dengan kejahatan, akan semakin memperbanyak kejahatan. Berlaku jahat untuk menolak kejahatan berarti praktik balas dendam atau mengambil peluang untuk berbuat jahat. Maka, antara pihak yang berbuat jahat dan pihak yang memberantas kejahatan, sama jeleknya.

Maka, sulit dipahami memberantas teroris dengan perbuatan teror. Kendati dengan dalih menumpas teroris, perbuatan teror tidak dapat dihalalkan. Teror dibalas teror berarti menggandakan kejahatan.

 Sumber : Nasril Zainun

Jumat, 08 November 2013

Asma' Binti Abu Bakar




Asma’ binti Abu Bakar r.ha. sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah r.ha.
Suatu waktu, ketika Rasullah saw. dengan Abu Bakar r.a. telah memerintah Zaid r.a. dan beberapa orang pegawainya untuk mengambil kudanya dan keluarganya untuk dibawa ke Madinah.
Asma, r.ha. berhijrah dengan rombongan tersebut. Sesampainya di Quba – dari rahim Asma r.ha. – lahirlah putra pertamanyam yakni Abdullah bin Zubair r.a.
Dalam sejarah Islam, itulah bayi pertama yang dilahirkan setelah hijrah. Pada zaman itu banyak terjadi kesulitan, kesusahan, kemiskinan, dan kelaparan. Tetapi pada zaman itu juga muncul kehebatan dan keberanian yang tiada bandingannya.
Dalam sebuah riwayat dari Bukhari dicertakan bahwa Asma’ r.ha. sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya,“Ketika aku menikah dengan Zubair r.a., ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. AKulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebtu. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.
Ketika Rasulullah saw. sampai di madinah, maka Zubair r.a. telah diberi hadiah oleh Rasulullah saw. berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah saw. dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah saw melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhada Zubair r.a. yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair r.a. tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair r.a. merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair r.a berkata, “Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu.”
Setelah itu Abu Bakar, ayah Asma’ r.ha., memberikan seorang hamba sahaya kepada Asma’. Dengan adanya pembantu di rumahnya, maka pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan ringan, seolah-olah aku telah terbebas dari penjara.
Ketika Abu Bakar ash-shidiq r.a. berhijrah, sedikit pun tidak terpikirkan olehnya untuk meninggalkan sesuatu untuk keluarganya. Ia berhijrah bersama-sama Rasulullah saw. Untuk keperluan itu, seluruh kekayaan yang ia miliki, sejumlah lebih kurang 5 atau 6 dirham dibawa serta dalam perjalanan tersebut. Setelah kepergiannya, ayah Abu Bakar r.a. yakni Abu Qahafah yang buta penglihatannya dan sampai saat itu belum masuk Islam mendatangi cucunya, Asma r.ha. dan Aisyah r.ha. agar mereka tidak bersedih karena telah ditinggal oleh ayahnya. Ia berkata kepada mereka, “Aku telah menduga bahwa Abu Bakar r.a. telah menyebabkalian susah. Tentunya seluruh hartanya telah dibawa serta olehnya. Sungguh ia telah semakin banyak membebani kalian.”
Menanggapi perkataan kakeknya, Asma r.ha. berkata, “Tidak, tidak, wahai kakek. Ayah juga meninggalkan hartanya untuk kami.” Sambil berkata demikian ia mengumpulkan kerikil-kerikil kecil kemudian diletakkannya di tempat Abu Bakar biasa menyimpan uang dirhamnya, lalu ditaruh di atas selembar kain. Kemudian dipegangnya tangan kakeknya untuk merabanya. Kakeknya mengira bahwa kerikil yang telah dirabnya itu adalah uang. Akhirnya kakeknya berkata, “Ayahmu memang telah berbuat baik. Kalian telah ditinggalkan dalam keadaan yang baik.” Sesudah itu, Asma r.ha. berkata, “Demi Allah, sesungguhnya ayahku tidak meninggalkan harta sedikit pun. Aku berbuat demikian semata-mata untuk menenangkan hati kakek, supaya kakek tidak bersedih hati.”
Asma’ r.ha. memiliki sifat yang sangat dermawan. Pada mulanya, apabila ia akan mengeluarkan harta di jalan Allah ia akan menghitungnya dan menimbangnya. Akan tetapi, setelah Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menyimpan-nyimpan atau menghitung-hitung (harta yang akan diinfakkan). Apabila mampu, belanjakanlah sebanyak mungkin.”
Akhirnya setelah mendengar nasihat ini, Asma r.ha. semakin banyak menyumbangkan hartanya. Ia juga selalu menasehati anak-anak dan perempuan-perempuan yang ada di rumahnya, “Hendaklah kalian selalu meningkatkan diri dalam membelanjakan harta di jalan Allah, jangan menunggu-nunggu kelebihan harta kita dari keperluan-keperluan kita (yaitu jika ada sisa harta setelah dibelanjakan untuk keperluan membeli barang-barang, barulah sisa tersebut disedekahkan.) Jangan kalian berpikir tentang sisanya. Jika kalian selalu menunggu sisanya, sedangkan keperluan kalian bertambah banyak, maka itu tidak akan mencukupi keperluan kalian sehingga kita tidak memiliki kesempatan untuk membelanjakannya di jalan Allah. Jika keperluan itu disumbangkan di jalan Allah, maka kalian tidak akan mengalami kerugian selamanya.”

sumber: muslimmuda.com