Senin, 28 Oktober 2013

Abu Dzar Al-Ghaffari




Diceritakan dalam riwayat yang berbeda oleh Ibn Al-Mubarok dalam dua kitabnya Al-Birr dan As-Shalah bahwa terjadi ketidaksepakatan antara Abu Dzar dan Bilal. Abu Dzar kemudian berkata kepada Bilal "Kamu anak seorang budak hitam". Rasulullah yang mendegar ini sangat marah, lalu beliau mengingatkan Abu Dzar dengan sabdanya. "Ini keterlaluan wahai Abu Dzar, orang yang ibunya berkulit putih tidak memiliki kelebihan yang membuatnya lebih baik daripada seorang yang ibunya berkulit hitam".
Peringatan Rasulullah ini meninggalkan pengaruh yang teramat dalam pada diri Abu Dzar. Beliau kemudian meletakkan kepalanya di tanah dan bersumpah bahwa beliau tidak akan mengangkatnya sebelum Bilal menginjakkan kakinya di atas kepalanya.
Peristiwa itu tertuang pula pada riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa, Rasulullah SAW bersabda "Orang berkulit merah tidak lebih baik dari orang berkulit hitam kecuali dalam hal ketaqwaanya. Umat manusia adalah anak cucu adam dan adam diciptakan dari tanah". Demikianlah sikap Abu Dzar yang perlu kita tauladani dengan menyadari kekeliruan sikap yang menonjolkan keturunan, kesukuan dan bangsanya.

Abdullah bin Abbas




Di antara sahabat-sahabat RasuluLlah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang ketika melafadzkan syahadat mereka berusia sangat muda, atau ketika mereka dilahirkan, ayah bunda mereka telah muslim. Perhatian RasuluLlah SAW kepada para sahabat cilik ini, tidak berbeda dengan sahabat-sahabat yang lainnya. Bahkan beliau sangat memperhatikan mereka dan meluangkan waktu untuk bermain, bicara dan menasehati mereka.
AbduLlah bin Abbas (Ibnu Abbas) adalah salah satu kelompok sahabat junior ini. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Semenjak kecilnya, beliau sudah menunjukkan kecerdasan dan kesungguhannya terhadap suatu masalah. RasuluLlah mengetahui potensi besar yang ada pada anak muda ini, seperti halnya beliau melihat potensi yang sama pada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan sahabat-sahabat cilik lainnya.
RasuluLlah SAW sering terlihat berdua bersama si kecil AbduL lah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, RasuluLlah SAW mengajak Ibnu Abbas RA berjalan-jalan seraya menyampaikan tarbiyahnya kepada pemuda cilik ini:
"Ya ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat yang sangat berguna?
Jagalah ALlah SWT (ajaran-ajaranNya), maka engkau akan menda patkanNya selalu menjagamu. Jagalah ALlah SWT (larangan-laranganNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu dekat di hadapanmu. Kenalilah ALlah dalam sukamu, maka ALlah akan mengenalimu dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada ALlah. Jika engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada ALlah. Semua hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis. Ketahuilah, seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditaqdirkan ALlah untukmu, mereka tidak akan mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi untuk menghalangi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakan lah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar dalam musibah itu akan memberikan hasil positif; dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu tiba setelah kesulitan.  [HR Ahmad, Hakim, Tirmidzi]
Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan 'amal yang manakah hasil tarbiyah RasuluLlah itu? AbduLlah bin Abbas tumbuh menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat dengan ALlah dan Rasul-Nya.
Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara RasuluLlah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya: ummahatul mu'minin, Maimunah bint al-Harist. Ketika itu ia melihat RasuluLlah bangun tengah malam dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana RasuluLlah berwudhu. RasuluLlah - sang murobbi agung itu - tidak menyepele kan hal ini, beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas, seraya mendo'akan: "Ya ALlah, faqih-kanlah ia dalam perkara agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu."
Kemudian RasuluLlah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang RasuluLlah SAW; tetapi RasuluLlah kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya. Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan RasuluLlah, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, RasuluLlah memper tanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan ALlah SWT. RasuluLlah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi do'anya ketika berwudhu tadi.
Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, RasuluLlah wafat. Beliau sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya bersedih atau lemah. Dengan segera ia mengajak teman sebayanya untuk bertanya dan belajar pada sahabat-sahabat senior mengenai apa saja yang berkenaan dengan RasuluLlah dan ajaran al-Islam. Logika Ibnu Abbas, saat itu mengatakan bahwa para sahabat masih berada di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan informasi dari mereka, sebelum mereka berpencaran ke kota-kota lain atau sebelum mereka wafat. Namun sayang, ajakan ini tidak ditanggapi oleh rekan-rekan sebayanya, karena mereka rata-rata beranggapan bahwa para sahabat senior tidak akan memperhatikan pertanyaan anak-anak kecil macam mereka.
Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia tanyakan. Dengan sabar, beliau menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau da'wahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebetulan sedang beristirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di depan pintu rumahnya, hingga tertidur, tergolek beralaskan pakaiannya. Tentu saja para sahabat terkejut menemui Ibnu Abbas tertidur di muka rumahnya, "Oh keponakan RasuluLlah, ada apa gerangan? Kenapa tidak kami saja yang datang menemuimu, bila engkau ada keperluan?" "Tidak,"kata Ibnu Abbas, "sayalah yang harus datang menemui anda."
Demikianlah masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa dewasanya? Beliau katakan sebagai seorang muda yang berwawasan dewasa, yang lisannya selalu bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syuro'nya dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat. Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas, dengan selalu berada dalam kalangan sahabat senior.
Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, beliau berga bung dengan pasukan muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara, di bawah pimpinan AbduLlah bin Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam pertempuran dan juga dalam da'wah di sana. Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk menemui dan berda'wah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.
AbduLlah bin Abbas, yang muda yang ulama, wafat dalam usia 71 tahun pada tahun 68H. Sahabat Abu Hurairah RA, berkata "Hari ini telah wafat Ulama Ummat. Semoga ALlah SWT berkenan memberikan pengganti AbduLlah bin Abbas."

Wassalamu'alaikum

Senin, 07 Oktober 2013

Selalu berusaha memperbaiki diri

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua, di pagi yang dingin ini penulis ingin berbagi dengan teman-teman semua, dengan tema yang sangat sederhana yaitu " berusaha memperbaiki diri" adalah sebuah keberuntungan bagi kita dalam hidup yang dengan kesibukan yang luar biasa, sebab kehidupan yang kita jalani sekarang ini menuntut kita untuk berpikir cepat, dan efesien.Tetapi ditengah kesibukan kita, kita harus berusaha untuk memberikan waktu untuk meningkatakan kualitas dalam perbaikan diri, dengan cara yang bermacam-macam, seperti memperbaiki kualitas kejujuran kita, sebab sekarang menjadi orang yang jujur langka di negeri ini, banyak orang yang sudah melupakan arti sebuah kejujuran, karena keserakahan hidup yang sifatnya sementara, selanjutnya perbaikan kualitas ibadah, ingat hidup di dunia hanya sebentar saja, yah paling lama 70 tahun itu udah dapat discount, jadi gunakan waktu yang masih tersisa dengan meningkatkan ibadah untuk menuju masa yang kekal ( akhirat) seperti berdzikir, bershalawat, syukur,sedekah dan masih banyak lagi .kemudian memperbaiki kualitas keilmuan kita ( continue improvment) jangan merasa puas dengan ilmu yang kita miliki sekarang, karena semakin cerdas kita maka semakin berguna bagi diri sendiri, keluarga , masyarakat dan bahkan bagi nusa dan bangsa. jadi teruslah melakukan perbaikan-perbaikan semoga kita menjadi orang yang lebih bermanfaat di hari yang akan datang, Wasssalam. 

Kamis, 25 Juli 2013

Jangan membunuh ular-ular kecil

“Janganlah kalian membunuh ular-ular kecil (yakni ular-ular penghuni rumah) , KECUALI setiap ular yang terputus ekornya dan memiliki dua garis di atasnya, karena dia bisa menggugurkan janin dan membutakan mata, maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari [3311]).- Larangan membunuh yakni ular-ular penghuni rumah karena boleh jadi ular itu adalah jin-jin muslim.Dalam riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya rumah-rumah ini dihuni jin-jin berwujud ular yang biasa menghuni rumah,jika kalian melihatnya, maka usirlah atas nama Allah selama tiga hari. Jika tidak pergi juga, maka bunuhlah karena ia adalah jin kafir." (HR. Muslim [2236]).-Jika terlihat ular dalam rumah, maka diberitahu selama tiga hari dan menghalaunya dengan mengatakan: "Engkau berada dalam kesulitan!" Bila ular itu tidak pergi atau muncul lagi setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah syaitan yang kafir."

Amalan yang dianjurkan di sepuluh malam terakhir yang terdapat Lailatul Qadr di dalamnya

Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT mengunggulkan musim-musim ketaatan atas seluruh waktu. Memudahan di dalamnya kebaikan dan keberkahan.Memuliakan bulan ramadhan atas seluruh bulan, mengkhususkan malam-malamnya dengan keutamaan yang telah dikenal dan mengistimewakannya dengan lailatu qadr yang  lebih baik dari seribu bulan.
Jika Allah SWT memandang di malam itu kepada orang yang berdosa maka ia akan mengampuninya , kepada orang yang mempunyai aib maka Allah akak menutupinya, menentramkan dan memakmurkan setiap hati, mengabulkan dan memudahkan setipa hajat orang-orang yang meminta .Menjadikan malam mulia ini sebagai perantara ikatan masa, melipatkangandakan pahala amal ibadah.
Tidaklah menemuakan orang yang berdo'a penuh kembali kepada Allah. Kecuali akan beruntung dengan segeranya pengabulan.Tidaklah seseorang berniaga di dalamnya kecuali Allah memberikan kesuksesan dan mencukupinya. tidaklah seseorang kembali didalamnya kepada Allah kecuali ia akan menerima dan memilihnya.dan tidaklah seseorang bersiap diri untuk mendapat kebaikan kecuali Allah akam memberikannya. Maka alangkah beruntungnya orang yang mengagungkan dan menghormatinya. Duhai malam yang penuh berkah dan cahaya, duhai malam yang berlimpah kebaikannya. Di malam itu pintu-pintu langit di buka , para malaikat turun membawa bisyarah (kabar gembira) bagi manusia yang menghidupkan malam itu tidak tidur.
Sungguh alangkah beruntungnya orang yang bersenang ria dengan menujat dan berharap di malam itu. Mengisi dengan ketaatan kepada Tuhannya.Duhai malam yang tidak diangkat curahan hati kepada Allah disaat itu kecuali Allah akan memandangnya, tidaklah disampaikan permohonan kepada-Nya kecuali akakn dipenuhi dan ditolong, tidaklah melayang nafas-nafas kesulitan kepada-Nya kecuali akan dihilangkan, tidaklah sampai keluh susah kepada-Nya kecuali akan dilapangkan dan diganti dengan kebahagiaan , tidaklah berendah diri orang yang bersalah dihadapan-Nya , kecuali akan diterima dan tidaklah merintih-rintih hati yang pecah karena takut kepada-Nya kecuali dia akan menolong dan menerangkan dengan kelembutan-Nya.
Imam Ahmad ra meriwayatkan hadits di dalam musnad dengan sanad yang hasan (baik) dari Ubadah bin Shamit ra bahwasanya Rasulullah bersabda: Lailatul qadr terdapat di sepuluh malam terakhir . Barangsiapa yang tegak beribadah di dalamnya, mengharap pahala dari Allah , maka seseungguhnya Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu dan akan datang.Lailatul Qadr itu adalah di malam ganjil, malam ke 21.23,25,27,29 atau dimalam terakhir. Semoga bermanfaat,Wassalam...

Sabtu, 13 Juli 2013

Jembatan di Neraka


Jembatan atau sirath diciptakan oleh Allah SWT tepat diatas neraka. Sirath itu sangat licin dan mudah menggelincirkan, lebih lembut bentuknya daripada rambut, tajamnya melebihi pedang, gelapnya melebihi gelapnya malam hari.

Hanya hamba Allah yang beriman dan bertaqwa serta mengerjakan amal shaleh yang bisa melewati jembatan ini dengan selamat. Para pendosa dan pendurhaka pasti terpereset dan masuk kejurang neraka.

Hamba Allah melewati jembatan itu dengan bermacam-macam cara sesuai amalan mereka sewaktu hidup didunia ini:
- Ada yang berjalan bagaikan kilat menyambar.
- Ada yang berjalan bagaikan angin kencang.
- Ada yang berjalan bagaikan burung terbang.
- Ada yang berjalan bagaikan larinya kuda pacuan.
- Ada yang berjalan dengan jalan cepat.
- Ada yang berjalan bagaikan larinya binatang ternak.
- Ada yang berjalan seperti lari sehari-semalam.

Ada yang melalui jembatan itu selama satu, dua dan tiga tahun. Ada pula yang memakan waktu selama 15.000 tahun (tahun dunia) dan ada juga yang berjalan dengan berlutut sebagaimana firman Allah SWT berikut:

"Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim didalam neraka dalam keadaan berlutut." (QS. Maryam: 71-72)

Rasulullah SAW bersabda:"Siapa yang menyampaikan dan mengamalkan ilmu maka dia akan memperoleh pahala walaupun sudah tiada." (HR. Muslim)

Sekarang anda memiliki dua pilihan
1. membiarkan sedikit pengetahuan ini hanya dibaca disini
2. Membagikan pengetahuan ini kesemua teman kmu
InsyaAllah bermanfaat dan akan menjadi pahala bagimu ..
آمِÙŠّÙ†ْ... آمِÙŠّÙ†ْ... ÙŠَ رَ بَّÙ„ْ عَÙ„َÙ…ِÙŠّÙ†
Sumber kiky Mahlesy

Selasa, 09 Juli 2013

Fadhilah Shalat Tarawih



Dari ‘Ali Bin Abi Thalib RA : Rosulullah SAW ditanya tentang Fadhilah Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan, Beliau (Rosululloh menjawab :
  • Pada malam pertama, dia akan keluar dari dosanya seperti dia keluar dari perut ibunya.
  • Pada malam kedua, dia akan diampuni dosanya dan juga kedua orang tuanya bila mereka terolong orang mukmin.
  • Pada malam ketiga, malaikat memanggil dari bawah ‘Arsy : Segeralah kamu beramal karena Allah telah mengampuni dosamu yang telah lewat.
  • Pada malam keempat, dia akan diberi pahala seperti pahalanya membaca Taurot, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an.
  • Pada malam kelima, Allah akan memberikan pahala seperti pahalanya sholat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsho.
  • Pada malam keenam, Allah akan memberikan pahala seperti pahalanya Thowaf di Baitul Ma’mur, dan dimintakan Ampun kepada Allah oleh batu dan pasir.
  • Pada malam ketujuh, seolah-olah dia bertemu dengan Nabi Musa AS, dan membantunya mengalahkan Fir’aun dan Haman.
  • Pada malam kedelapan, Allah akan memberikan apa-apa yang telah diberikan kepada Nabi Ibrahim AS.
  • Pada malam kesembilan, seolah-olah dia beribadah seperti ibadahnya Nabi.
  • Pada malam kesepuluh, Allah akan memberikan kebaikan dunia dan akhirat.
  • Pada malam kesebelas, dia akan keluar dari dunia seperti ketika keluar dari perut ibunya,
  • Pada malam keduabelas, ketika datang hari kiamat, wajahnya bersinar bagai bulan purnama.
  • Pada malam ketigabelas, ketika datang hari kiamat, dia akan selamat dari bermacam kejelekan.
  • Pada malam keempatbelas, datang Malaikat dan memberikan saksi kalau orang tersebut melaksanakan Shalat Tarawih, kemudia orang tersebut tidak dihisap pada hari kiamat.
  • Pada malam kelimabelas, dimintakan ampun oleh Malaikat, malaikat hamalatul ‘Arsy dan Kursi.
  • Pada malam keenambelas, orang tersebut ditulis oleh Allah bebas dari neraka dan bebas masuk Surga.
  • Pada malam ketujuhbelas, dia akan diberi pahala seperti pahalanya para Nabi.
  • Pada malam kedelapanbelas, malaikat memanggilnya: Wahai Hamba Allah, sesungguhnya Allah telah ridho padamu dan kedua orang tuamu.
  • Pada malam kesembilanbelas, Allah mengangkat derajatnya di Surga Firdaus.
  • Pada malam keduapuluh, akan diberi pahala seperti pahalanya orang mati syahid dan para shalihin.
  • Pada malam keuapuluhsatu, Allah membangunkan untuknya rumah dari nur di Surga.
  • Pada malam keduapuluhdua, ketika hari kiamat datang, dia tidak merasakan bingung dan susah.
  • Pada malam keduapuluhtiga, Allah akan membangunkan untuknya kota di Surga.
  • Pada malam keduapuluhempat, dia diberi 24 do’a yang dikabulkan.
  • Pada malam keduapuluhlima, Allah akan menghilangkan darinya Azab kubur.
  • Pada malam keduapuluhenam, Allah akan menerima amal dan memberikan pahala kepadanya selama 40 tahun.
  • Pada malam keduapuluhtujuh, ketika dia meliwati shirotol mustaqim seperti kilat/halilintar yang menyambar.
  • Pada malam keduapuluhdelapan, Allah mengangkat dia di Surga dengan 1000 derajat.
  • Pada malam keduapuluhsembilan, Allah akan memberikan kepadanya pahala 1000 ibadah haji yang maqbul.
  • Pada malam ketigapuluh, Allah berkata : Wahai hamba -Ku makanlah dari buah-buahan Surga, mandilah dengan susu salsabil, minumlah dari telaga kautsar. Akulah tuhanmu, dan engkaulah hamba -Ku.Mudah-mudah ada manfaatnya bagi kita bersama, amin Ya Rabbal Alamin.Wassalam.