Senin, 11 November 2013

Beruswah pada Kepemimpinan Rasulullah SAW




Selama 63 tahun hidup Rosululloh Muhammad SAW, sungguh kita telah diberikan satu deskripsi profil manusia yang penuh dengan kesempurnaan. Tersaji dengan gamblang pada kita semua, perilaku dan sikap beliau untuk menjadi uswah bagi kita agar kita menjadi insan mulia, hambah Alloh SWT yang paling bertaqwa.
Saat kita menelaah fragmentasi kehidupan beliau yang tertulis dalam siroh, ada pelajaran bagi kita tentang karakteristik dan sikap beliau sebagai pemimpin, yang lekat dalam diri beliau integrasi multi kesempurnaan. Paduan kesempurnaan antara qiyadah fikriyyah dan qiyadah sakhshiyyah. Berikut ini sekelumit uraian pelajaran yang mampu kami ungkapkan tentang karakteristik kepemimpinan beliau yang hendaknya kita jadikan uswah dalam kita memimpin, memimpin siapa saja dimana saja.

A. Kejujuran yang terbukti dan teruji
Tatkala pembangunan Ka’bah sampai pada bagian Hajar Aswad, orang-orang Quraisy saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya semula. Perselisihan itu terus berlanjut selama empat atau lima hari. Perselisihan ini semakin meruncing bahkan hampir saja menjurus pada pertumpahan darah di tanah suci. Adalah Abu Ummayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumy tampil dan menawarkan jalan keluar dengan menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima cara ini. Dengan kehendak Alloh, orang yang lewat pintu tersebut adalah Rosululloh Muhammad SAW. Tatkala mengetahui hal ini, mereka berbisik-bisik, “Inilah Al-Amin. Kami ridlo kepadanya. Inilah dia Muhammad”. (Siroh Ibnu Hisyam XII/192)
1.   Kejujuran adalah perilaku kunci yang sangat efektif untuk membangun kepercayaan (kredibilitas) sebagai seorang pemimpin, begitu pula bila sebaliknya, dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
2.   Biasakanlah selalu jujur dimulai dari hal yang paling sederhana dan kecil sekalipun, walaupun terhadap anak kecil, karena sesunggunya Allah menilai perilaku kita, yakinlah tak akan pernah untung sama sekali dengan ketidakjujuran selain kerugian yang mendera dan menghancurkan, sudah terlalu banyak bukti di sekitar kita untuk dijadikan pelajaran.
3.   Jangan sekali-kali berbohong atau terpancing untuk menambah omongan sehingga menjadi dusta walau dalam gurauan sekalipun.
4.   Jangan pernah mudah membuat janji, pastikan setiap janji yang diucapkan sudah diperhitungkan matang-matang, dan berusaha keraslah untuk memenuhi janji.
5.   Tepat waktulah dalam segala hal, jangan terlambat atau gemar menunda-nunda atau mengakhirkan.
6.   Biasakanlah memiliki data dan fakta yang jelas, dan bersikaplah terbuka.
7.   Milikilah kemampuan dan kesungguhan mengevaluasi diri, dan segera perbaiki diri begitu ditemukan kesalahan serta bertanggungjawablah dengan sungguh-sungguh dan tulus.
8.   Jangan pernah patah semangat bila didapati masa lalu kita pernah atau banyak keidakjujuran.

B. Cakap dan Cerdas
Komponen kedua yang tak kalah pentingnya adalah kehandalan dan kecakapan kita dalam melaksanakan tugas. Walaupun sangat dikenal dan teruji kejujurannya tapi kalau dalam melaksanakan tugas sering berbuat lalai dan kesalahan maka hal ini pun akan merontokkan kredibilitas.
Sebelum Perang Badar Al-Kubro, suatu sore, Rosululloh SAW mengirim mata-mata untuk mengetahui data tentang musuh. Kunci utamanya adalah secara sadar kita harus selalu belajar, melatih diri, mengembangkan kemampuan, wawasan serta keterampilan kita secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga selalu memiliki kesiapan yang memadai untuk melaksanakan tugas.
1.   Awalilah selalu dengan membuat perencanaan yang baik dan persiapan yang matang, gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan
2.   Jangan lupa selalu check and recheck, tak boleh kita melakukan sesuatu tanpa cek ulang, sangat banyak peluang kesalahan atau kegagalan yang terselamatkan dengan sikap yang selalu mengadakan pengecekan ulang.
3.   Laksanakan segala sesuatu dengan kesungguhan, sikap yang hati-hati dan cermat, jangan anggap remeh kelalaian dan kecerobohan karena semua itu biang kesalahan dan kegagalan.
4.   Selalu sempatkan untuk evaluasi dari setiap tahapan apapun yang kita lakukan, percayalah merenung sejenak untuk mengevaluasi membuat karya kita akan semakin bermutu.
5.   Nikmatilah dengan menyempurnakan apa yang bisa dilakukan, jangan pernah puas dengan setengah-setengah, jangan pula puas dengan 90%, kalau kita bisa menyempurnakannya, mengapa tidak?

C. Inovatif dan Berwawasan ke Depan.
Segala sesuatu yang ada selalu berubah, di dunia ini tidak ada sesuatu apapun yang tidak berubah. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu siapa pun yang tidak menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan maka dia akan tergilas kalah oleh perubahan tersebut.
Maka jelaslah sudah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah bahwa orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi karena berarti tak ada kemajuan dan tetinggal oleh perubahan, orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dianggap orang yang celaka, karena berarti akan tertinggal jauh dan sulit mengejar, satu-satunya pilihan bagi orang yangberuntung adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, berarti harus ada penambahan sesuatu yang bermanfaat, inilah sikap perubahan yang diharapkan selalu terjadi pada seorang muslim, sehingga tidak akan pernah tertinggal, dia selalu antisipatif terhadap perubahan, dan selalu siap menyikapi perubahan.
Berikut ini beberapa anjuran agar kita dapat selalu mengembangkan kemanpuan kreatif kita:
1.   Banyak membaca dan menulis.
2.   Banyak berdiskusi dan bertanya.
3.   Banyak melihat (mengadakan studi banding).
4.   Banyak merenung (tafakur).
5.   Banyak berbuat dan mencoba.
6.   Banyak beribadah dan berdo'a.
Mudah-mudahan kegigihan diri kita, menjaga agar karir hidup ini menjadi orang bersih, terbuka, jujur terpercaya, kita lakukan dengan tulus karena Allah semata. Selamat berjuang saudaraku sekalian, cukuplah Allah sebagai satu-satunya tujuan, pelindung, tumpuan harapan dan satu-satunya penolong kita semua.


D. Tegas tapi Rendah Hati.
Setelah paman beliau, Abu Tholib, didatangi serta diiancam para pembesar Quraisy, berkatalah ia, “ Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaumku telah mendatangiku, lalu mereka berkata begini dan begitu kepadaku. Maka hentikanlah demi diriku dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membenaniku sesuatu di luar kesanggupanku.”
Rosululloh SAW mengira pamannya akan menelantarkannya dan sudah tidak mau lagi mendukungnya. Maka beliau bersabda, “Wahai pamanku, demi Alloh, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Alloh memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya”. (Siroh Ibnu Hisyam I/226).
Seorang pemimpin dituntut untuk bersikap tegas, terutama saat berpihak pada kebenaran. Namun tidak boleh takabur, ia harus tetap rendah hati.

E. Pemberani tapi Bersahaja.

F. Kuat Fisik dan Tahan Penderitaan.
Wallahu a'lam bishshawab.
--------------------------------
Penulis adalah Dosen STIE Syari'ah Surabaya

Minggu, 10 November 2013

Berantas Kejahatan dengan Kebaikan




Ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan Mekah pada tahun 13 H, kaum kafir Quraisy dilanda rasa takut lantaran kejahatan mereka terhadap Rasulullah dan umat Islam di masa lampau. Mereka menduga akan menerima pembalasan jahat dari umat Islam.

Ternyata Rasulullah SAW mencanangkan hari itu sebagai hari pemberian maaf. Beliau mengumumkan tiga cara untuk aman bagi kaum Quraisy Mekah, satu di antaranya adalah berlindung di rumah Abu Sofyan. Abu Sofyan sebelum itu dikenal sebagai tokoh Quraisy yang sudah amat banyak berbuat jahat kepada Rasulullah. Tokoh jahat lainnya adalah Abu Jahal dan Abu Lahab yang saat itu sudah meninggal dunia.

Selanjutnya, Rasulullah SAW mengumpulkan semua tentara Islam dalam sebuah barisan dan memanggil Abu Sofyan. Rasulullah menyatakan bahwa mulai hari itu mengangkat Abu Sofyan sebagai pimpinan tentara Islam yang sedang berbaris di depannya. Rasa takut dan kecut di dada Abu Sofyan dan kaum kafir Quraisy berubah menjadi lega dan haru kendati masih bercampur rasa malu.

Rasulullah SAW dan umat Islam ternyata tidak membalas kejahatan kaum kafir Quraisy dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, Rasulullah memperlakukan mereka secara baik dan manusiawi.
Memang, begitulah sebenarnya tuntunan Allah SWT. Firman-Nya: ''Tidaklah sama kejahatan dan kebaikan.

Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang baik, sehingga orang yang bermusuhan antara engkau dan dia seolah-olah teman yang setia.'' (As-Sajadah: 34).
Memang benar, perlakuan baik itu telah membuat Abu Sofyan segera menarik tangan Rasulullah SAW dan mengucapkan dua Kalimat Syahadat untuk memeluk Islam.
Langkah Abu Sofyan diikuti orang-orang kafir lainnya.

Saat itulah turun surat An-Nashr: ''Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah (Islam) berbondong-bondong. Maka, bertasbihlah dengan memuji Tuhan engkau dan minta ampunlah. Sesungguhnya Allah itu Maha Penerima tobat.''

Dari situ terlihat bahwa Islam sangat antikejahatan. Islam mengajarkan umatnya untuk memberantas kejahatan dengan kebaikan. Sehingga, kejahatan itu tidak berlanjut dan bahkan membuahkan hubungan baik antara pelaku kejahatan dan korban kejahatan. Terbukti dengan balasan baik dari Rasulullah, Abu Sofyan memeluk Islam. Di belakang hari anak cucu Abu Sofyan menjadi pemimpin-pemimpin Islam.

Bila kejahatan diberantas dengan kejahatan, akan semakin memperbanyak kejahatan. Berlaku jahat untuk menolak kejahatan berarti praktik balas dendam atau mengambil peluang untuk berbuat jahat. Maka, antara pihak yang berbuat jahat dan pihak yang memberantas kejahatan, sama jeleknya.

Maka, sulit dipahami memberantas teroris dengan perbuatan teror. Kendati dengan dalih menumpas teroris, perbuatan teror tidak dapat dihalalkan. Teror dibalas teror berarti menggandakan kejahatan.

 Sumber : Nasril Zainun

Jumat, 08 November 2013

Asma' Binti Abu Bakar




Asma’ binti Abu Bakar r.ha. sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah r.ha.
Suatu waktu, ketika Rasullah saw. dengan Abu Bakar r.a. telah memerintah Zaid r.a. dan beberapa orang pegawainya untuk mengambil kudanya dan keluarganya untuk dibawa ke Madinah.
Asma, r.ha. berhijrah dengan rombongan tersebut. Sesampainya di Quba – dari rahim Asma r.ha. – lahirlah putra pertamanyam yakni Abdullah bin Zubair r.a.
Dalam sejarah Islam, itulah bayi pertama yang dilahirkan setelah hijrah. Pada zaman itu banyak terjadi kesulitan, kesusahan, kemiskinan, dan kelaparan. Tetapi pada zaman itu juga muncul kehebatan dan keberanian yang tiada bandingannya.
Dalam sebuah riwayat dari Bukhari dicertakan bahwa Asma’ r.ha. sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya,“Ketika aku menikah dengan Zubair r.a., ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. AKulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebtu. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.
Ketika Rasulullah saw. sampai di madinah, maka Zubair r.a. telah diberi hadiah oleh Rasulullah saw. berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah saw. dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah saw melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhada Zubair r.a. yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair r.a. tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair r.a. merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair r.a berkata, “Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu.”
Setelah itu Abu Bakar, ayah Asma’ r.ha., memberikan seorang hamba sahaya kepada Asma’. Dengan adanya pembantu di rumahnya, maka pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan ringan, seolah-olah aku telah terbebas dari penjara.
Ketika Abu Bakar ash-shidiq r.a. berhijrah, sedikit pun tidak terpikirkan olehnya untuk meninggalkan sesuatu untuk keluarganya. Ia berhijrah bersama-sama Rasulullah saw. Untuk keperluan itu, seluruh kekayaan yang ia miliki, sejumlah lebih kurang 5 atau 6 dirham dibawa serta dalam perjalanan tersebut. Setelah kepergiannya, ayah Abu Bakar r.a. yakni Abu Qahafah yang buta penglihatannya dan sampai saat itu belum masuk Islam mendatangi cucunya, Asma r.ha. dan Aisyah r.ha. agar mereka tidak bersedih karena telah ditinggal oleh ayahnya. Ia berkata kepada mereka, “Aku telah menduga bahwa Abu Bakar r.a. telah menyebabkalian susah. Tentunya seluruh hartanya telah dibawa serta olehnya. Sungguh ia telah semakin banyak membebani kalian.”
Menanggapi perkataan kakeknya, Asma r.ha. berkata, “Tidak, tidak, wahai kakek. Ayah juga meninggalkan hartanya untuk kami.” Sambil berkata demikian ia mengumpulkan kerikil-kerikil kecil kemudian diletakkannya di tempat Abu Bakar biasa menyimpan uang dirhamnya, lalu ditaruh di atas selembar kain. Kemudian dipegangnya tangan kakeknya untuk merabanya. Kakeknya mengira bahwa kerikil yang telah dirabnya itu adalah uang. Akhirnya kakeknya berkata, “Ayahmu memang telah berbuat baik. Kalian telah ditinggalkan dalam keadaan yang baik.” Sesudah itu, Asma r.ha. berkata, “Demi Allah, sesungguhnya ayahku tidak meninggalkan harta sedikit pun. Aku berbuat demikian semata-mata untuk menenangkan hati kakek, supaya kakek tidak bersedih hati.”
Asma’ r.ha. memiliki sifat yang sangat dermawan. Pada mulanya, apabila ia akan mengeluarkan harta di jalan Allah ia akan menghitungnya dan menimbangnya. Akan tetapi, setelah Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menyimpan-nyimpan atau menghitung-hitung (harta yang akan diinfakkan). Apabila mampu, belanjakanlah sebanyak mungkin.”
Akhirnya setelah mendengar nasihat ini, Asma r.ha. semakin banyak menyumbangkan hartanya. Ia juga selalu menasehati anak-anak dan perempuan-perempuan yang ada di rumahnya, “Hendaklah kalian selalu meningkatkan diri dalam membelanjakan harta di jalan Allah, jangan menunggu-nunggu kelebihan harta kita dari keperluan-keperluan kita (yaitu jika ada sisa harta setelah dibelanjakan untuk keperluan membeli barang-barang, barulah sisa tersebut disedekahkan.) Jangan kalian berpikir tentang sisanya. Jika kalian selalu menunggu sisanya, sedangkan keperluan kalian bertambah banyak, maka itu tidak akan mencukupi keperluan kalian sehingga kita tidak memiliki kesempatan untuk membelanjakannya di jalan Allah. Jika keperluan itu disumbangkan di jalan Allah, maka kalian tidak akan mengalami kerugian selamanya.”

sumber: muslimmuda.com

Kamis, 07 November 2013

Antara Kebenaran dan Dusta





Suatu hari ketika 'Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh.'Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata : "Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu."
"Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu," orang itu berteriak balik. "Baiklah kalau begitu," jawab 'Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu."Apa yang sedang kamu lakukan", tanya orang itu kebingungan."Bukankah saya ini musuhmu?" Ali memandang tepat di matanya dan berkata, "Kamu bersumpah kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu telah memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku".
Tetapi orang itu tidak mampu. "Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata," jelas 'Ali. "Di dalam agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan aku. Kita bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangan kebijakanmu. Yaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada hari kiamat. Allah akan mempertanyakan hal ini kepadaku."
"Inikah cara Islam?" Orang itu bertanya."Ya," jawab 'Ali, "Ini adalah firman Allah, yang Mahakuasa, dan Sang Unik." Dengan segera, orang itu bersujud di kaki 'Ali dan memohon, "Ajarkan aku syahadat."Dan 'Ali pun mengajarkannya, "Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada yang ada selain Engkau, ya Allah."
Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya. 'Ali menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu. "Mengapa kamu tidak membunuh aku?" Orang itu berteriak dengan marah. "Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?" Dan dia meludahi muka 'Ali. Mulanya 'Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya. "Aku bukan musuhmu", Ali menjawab. "Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu."
"Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?" orang itu bertanya. "Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan". 'Ali menjelaskan kepadanya. "Meskipun engkau telah meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh." "Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?" "Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam."
Dengan segera orang itu tersungkur di kaki 'Ali dan dia juga diajari dua kalimat syahadat.

Rabu, 06 November 2013

Amir Ibnu Farihah



Amir ibnu farihah adalah maula (budak) Thufail ibnu Harits, dan Thufail adalah saudara tiri Aisyah lain ibu yaitu isteri Rasulullah Saw. Ibunya bernama Ummum Ruman. Setelah Amir mendengar bahwasanya Muhammad ibnu Abdullah diberi wahyu dari Allah, maka Amir bergegas datang ke hadapan Rasulullah. Kemudian menyatakan keislamannya di hadapan beliau. Ke-islamannya menimbulkan kemarahan di kalangan kaum Quraisy karena mereka khawatir makin tersebarnya agama Islam. Mereka mencoba mengembalikannya kepada kekufuran dengan janji kemerdekaan dan juga ancaman, namun Amir hanya menutup telinganya dan mengikrarkan bahwa tidak ada satupun yang ia takuti selain Allah Swt.
Ia kemudian menantang kaum Quraisy, yang membuat kaum itu geram dan lalu melemparnya ke atas batu-batu yang panas di siang hari setelah menelanjanginya, lalu mereka juga menyetrika para budak dengan besi yang panas. Namun tidak ada satupun yang mau kembali kepada kekufuran. Setelah Abu Bakar mengetahui bahwa Amir ibnu Farihah masuk Islam, dan setiap hari ia menanggung beban yang amat berat, maka ia segera pergi ke rumah Thufail untuk membeli Amir.
Setelah Amir memperoleh kemerdekaan ia turut berhijrah bersama Rasulullah Saw, dan menjadi tamu Sa'ad ibnu Khaitsamah. Sa'ad adalah salah seorang dari 12 pemimpin baiat Aqabah yang kedua. Di Madinah, Amir sibukberdagang, tapi dia tidak pernah absen untuk sholat berjama'ah bersama Rasulullah. Ia sedikit berbicara, dan lebih suka berdzikir kepada Allah Swt. Ia juga turut dalam beberapa peperangan, dan termasuk dalm pasukan yang berjalan kaki. Dia juga termasuk yang diberi peringatan oleh Allah Swt pada saat perang uhud, karena melakukan pelanggaran menuruni bukit uhud.
Pada bulan Safar tahun ke-empat hijriah, Sorang pembesar Najed yang bernama Amir ibnu Malik, dengan panggilan Abu Barra yang meminta beberapa utusan dari Rasulullah untukk mengajak kaumnya mengikuti agama Islam. Dan dia berani menjamin kalau utusan tersebut tidak akan diserang oleh kaumnya. Akhirnya Rasulullah mengutus 40 orang yang diantaranya adalah Amir ibnu Farihah, di bawah pimpinan Al Mundzir ibnu Amr. Setelah berkemah di Bi Ma'unah, utusan itu mengirim lagi Haram ibnu Malhan sebagai delegasi untuk menyampaikan surat dari Rasulullah kepada Amir ibnu Thufail yang menjadi tokoh di daerah itu. Amir ibnu Thufail enggan membaca surat itu, sebaliknya ia malah menghunus pedang dan membunuh utusan tersebut. Dia kemudian meminta bantuan Bani Amir untuk meyerang utusan lain Rasulullah, namun Bani tersebut menolak dengan alasan tidak akan melanggar janji Abu Barra'. Bantuan baru dia dapat oleh Bani Sulaim, yang langsung mengepung para utusan Rasulullah. Mereka membunuh para utusan tersebut hingga tersisa hanya 3 orang.
Amir ibnu Farihah, termasuk utusan yang syahid di Bir Ma'unah, ia dibunuh oleh Jabr ibnu Salma al Kabaly dengan tusukan panah di antara dua pundaknya, hingga ujung panah itu menembus pundaknya. Ketika terbunuh Amir ibnu Farihah sempat berkata, "Sungguh aku telah beruntung." Jabar kemudian bertanya, "Karena apakah Amir merasa beruntung pada saat itu?" Para sahabt menjawab, "Ia beruntung karena mati syahid." Jabar menambahkan, "Sungguh, aku melihat jenazahnya terangkat tinggi ke langit, hingga aku tidak bisa melihatnya." Setelah menyaksikan kejadian itu Jabbar menyatakan masuk Islam.
Setelah berita para utusan tersebut sampai ke Rasulullah, beliau merasa sangat sedih, dan beliau bersabda, "Ini adalah perbuatan Abu Barra. Sebelumnya aku tidak ingin mengirim utusan ke Nejeb karena aku khawatir kejadian seperti ini. Kemudian para sahabt melaporkan, "Kami tidak menemukan jenazah Amir ibnu Farihah padahal ia juga mati syahid." Sabda beliau, "Malaikat telah mengubur jenazahnya dan kini ia berada di tempat yang paling tinggi."
Subhanallah....Dikirimkan oleh Dwi Ningsih - Muslimah SLTP Negeri 18 SurabayaDikutip dari: Kehidupan Orang-orang Shaleh

Amal Duniawi



Pada suatu hari, Rasulullah SAW menjenguk Fatimah yang sedang menggiling tepung dengan alat penggiling. Nabi heran, karena Fatimah tampak menangis. Mengapa? Putri Rasulullah ini mengaku air matanya meleleh karena kesibukannya yang terus silih berganti tiada henti. Kepada ayahnya, Fatimah mengungkapkan keinginannya untuk memiliki budak yang bisa membantu semua pekerjaannya di rumah.

Nabi pun mendekati tempat penggilingan. Beliau lalu menghibur putrinya, ''... Allah berkehendak mencatat kebaikan, menghapus keburukan, dan mengangkat derajatmu jika engkau menunaikan tugas-tugas keseharianmu sebagai seorang istri dengan baik.''

Rasulullah kemudian bersabda bahwa seorang wanita yang dapat berperan sebagai istri yang baik bagi suaminya, serta sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya, maka Allah memberinya derajat yang sangat mulia.

Dalam kesempatan lain beliau juga menjelaskan, jika seorang ibu meminyaki sendiri rambut anak-anaknya, menyisirinya, mencuci baju-baju mereka sendiri, maka pahala yang ia peroleh laksana amal memberi makan seribu orang yang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang (tak mempunyai pakaian).

Kisah dan hadis di atas memberi pemahaman yang dalam kepada kita, bahwa hendaknya kita tidak membuat dikotomi atas amal kita antara yang "duniawi" dan "ukhrawi", sehingga kemudian kita mengunggulkan yang satu dan meremehkan yang lain.

Sebab, tidak jarang, apa yang kita anggap remeh ternyata sebenarnya mengandung kemuliaan yang sangat tinggi. Kita seringkali, mungkin, berpikiran bahwa amal-amal yang mulia yang "ukhrawi", yakni yang kental nuansa ritual-sakralnya, misalnya jihad fi sabilillah, haji, shalat nafilah, zikir, dan tadarus.

Kesibukan sehari-hari, misalnya, kerja di kantor, di pabrik, di toko, di jalan-jalan, demi menafkahi keluarga di rumah, atau kesibukan di dalam rumah semisal mengurus rumah dan mengasuh anak, yakni amal-amal profan, "duniawi", kita anggap remeh-temeh, biasa-biasa saja, bukan amal yang utama nan mulia.

Padahal, merujuk pada kisah dan sabda Rasul di atas, jelas sekali bahwa pemahaman seperti itu keliru. Dalam sudut pandang dan skala tertentu, amal-amal profan, "amal-amal duniawi" justru sangat tinggi nilainya di hadapan Allah, selama dilakukan dengan cara dan niat yang baik, sesuai tuntunan yang disunahkan Rasul.

Suatu kali, ketika Rasul sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, ada seorang pemuda yang kekar dan perkasa lewat. Para sahabat berkata, "Ah, andaikan kekekaran dan keperkasaannya digunakan untuk berjihad di medan perang sabilillah, betapa bagusnya."
Tapi, apa komentar Rasulullah?

Beliau sama sekali tidak sepakat dengan cara pandang parsial seperti itu. "Andaikan ia masih punya orang tua di rumah, ia lebih baik menggunakan kekuatannya untuk mengurus orang tuanya daripada berjihad. Atau, jika dengan keperkasaannya itu ia bekerja mencari nafkah buat dirinya sendiri agar tidak bergantung pada orang lain, itu jauh lebih baik daripada jihad."

Sumber: Sabrur.R.S