Selasa, 05 November 2013

ALTRUISME



llah Swt. berfirman (yang artinya): Mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri walaupun mereka dalam kesusahan. (QS al-Hasyr [59]: 9).
Ayat ini berkaitan dengan sebuah riwayat yang dituturkan oleh Abu Hurairah ra. Disebutkan bahwa pernah ada seorang Muhajirin menemui Rasulullah saw. Ia lalu berkata, "Ya Rasulullah, sungguh, saya sangat lapar sekali!"
Mendengar itu Rasul segera membawa orang itu kepada salah seorang istri beliau agar ia memberinya makan. Namun, istri beliau itu berkata, "Demi Zat Yang mengutusmu dengan haq. Aku tidak memiliki apapun, kecuali air."
Nabi yang mulia lalu membawa orang itu kepada istri beliau yang lain. Istri beliau itu pun menjawab dengan jawaban yang sama. Beliau kemudian membawa orang itu kepada istri-istri beliau yang lainnya lagi. Namun, jawaban mereka juga sama saja; mereka tidak memiliki apapun, kecuali air. Akhirnya, beliau bersabda kepada para Sahabat, "Siapa saja yang sanggup menjamu tamu ini pada malam ini, Allah pasti merahmatinya."
Seseorang dari kalangan Anshar lalu berdiri seraya berkata, "Saya, ya Rasulullah."
Orang Anshar itu pun membawa tamunya ke rumahnya. Ia lalu berkata kepada istrinya, "Kita kedatangan tamu malam ini. Apakah engkau punya makanan?"
Istrinya menjawab, "Tidak, kita tidak punya makanan, kecuali sedikit, untuk anak-anak kita."
Lelaki Anshar itu berkata kepada istrinya, "Kalau begitu, tidurkanlah mereka. Hidangkan makanan itu untuk tamu kita. Jika ia sudah masuk rumah, matikan lampu, sementara aku akan berpura-pura sedang makan."
Dalam kegelapan, tamu itu pun masuk dan dipersilakan untuk memakan hidangan yang tidak seberapa bersama tuan rumah, padahal tuan rumah hanya berpura-pura makan.
Keesokan harinya, Nabi saw. bersabda kepada suami-istri itu, "Sungguh, Allah sangat mengagumi kalian berdua karena perilaku kalian tadi malam dalam menjamu tamu kalian." (Al-Qurthubi, XVIII/24).
Kisah di atas sangatlah populer dan sudahn sering kita dengar. Begitu seringnya diperdengarkan, bagi sebagian orang kisah itu mungkin sudah tidak menarik lagi; tidak lagi mengharukan, menyentuh kalbu, apalagi mempertajam empatinya kepada orang lain yang berada dalam kesulitan.
Padahal kisah di atas setidaknya memberikan dua pelajaran (ibrah) yang senantiasa relevan untuk diingat oleh setiap Muslim dimana pun dan kapan pun. Pertama: Betapa Rasulullah saw. dan keluarganya tidak bisa dikatakan sebagai keluarga yang berada. Dalam banyak riwayat, Rasul bahkan sering 'terpaksa' shaum karena seringnya beliau tidak menemukan sesuatu untuk dimakan. Namun, yang menakjubkan, di tengah kebersahajaannya, Rasul yang mulia tetap memperhatikan kebutuhan orang lain. Kehidupan Rasul kekasih Allah seperti ini sejatinya menjadi cermin bagi kita yang selama ini mungkin merasa kekurangan atau miskin, bahwa kekurangan dan kemiskinan bukanlah alasan untuk berkeluh-kesah, berputus-asa, atau tidak mempedulikan orang lain. Apalagi jika kekurangan dan kemiskinan itu sampai mengakibatkan kita 'futur' di jalan dakwah. Bukankah Rasulullah saw. tidak pernah berhenti berdakwah hanya karena sering hidup dalam kekurangan?
Kedua: Betapa dalam kekurangan dan kemiskinan, Sahabat Anshar yang dikisahkan dalam riwayat di atas memiliki kesanggupan untuk mengutamakan orang lain (altruisme) ketimbang dirinya dan keluarganya. Ia sanggup mengenyangkan tamunya yang lapar meskipun ia sendiri dan keluarganya juga kelaparan. Gambaran Sahabat Anshar yang satu ini selayaknya juga menjadi cermin bagi kita, betapa kekurangan dan kemiskinan tidak boleh menghalangi niat untuk mengutamakan orang lain yang lebih membutuhkan.
Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauh mana rasa simpati, empati, dan altruisme kita kepada saudara kita, bahkan yang sama-sama aktif dalam barisan dakwah, yang kehidupannya ekonominya jauh lebih buruk daripada kita. Pernahkah kita tahu, atau mencari tahu, bahwa di samping kita mungkin ada aktivis dakwah yang sering menahan rasa lapar (berpuasa) karena tidak ada uang untuk membeli makan? Padahal mungkin saat itu di rumah kita kelebihan makanan.
Pernahkah kita berpikir, ada aktivis dakwah di sebuah kota besar, mungkin tetangga kita, yang setiap menghadiri halaqah dan beraktivitas dakwah harus menempuh perjalanan 5-10 km karena setiap hari hanya ada 5.000 rupiah di sakunya untuk biaya hidup anak dan istrinya? Pernahkah kita sadar, bahwa ada  aktivis dakwah yang hanya mampu ngontrak di 'gubuk' sederhana dan sempit, yang ia tinggali bersama istri dan anak-anaknya, yang lantainya suka becek dan atapnya sering bocor saat hujan; itu pun setiap bulannya ia harus selalu dipusingkan oleh uang kontrakannya yang 'tidak seberapa'? Padahal mungkin saat itu saudaranya sesama pengemban dakwah sedang berencana memperluas dan mempercantik rumahnya, atau mungkin berencana membeli rumah baru untuk investasi masa depannya, atau mungkin sedang berencana membeli mobil atau motor baru, di samping yang sudah ia miliki.
Yang 'menakjubkan', ada seorang Muslim di negeri ini yang mampu menunaikan ibadah haji sampai 9 kali atas biaya sendiri, di tengah-tengah tetangganya yang bisa satu kali makan sehari saja, baginya sudah beruntung. Masya Allah! 
Memang, ada orang yang biasa berpikir, punya rumah bagus, mobil mewah, motor lebih dari 3, atau berhaji berkali-kali adalah hal yang mubah; halal; tidak berdosa (tentu selama diperoleh dari jalan yang halal). Namun, pernahkah dia juga berpikir bahwa menjadikan kelebihan hartanya itu bisa bermanfaat bagi orang lain lebih dari sekadar halal, malah  mendapatkan pahala? Pernahkah pula dia merenungkan, bahwa dengan kecukupan hartanya 
Sumber : Arief B. Iskandar

Minggu, 03 November 2013

AL-Khansa' ( Ibu Para Syuhada')




Nama beliau adalah Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid, seorang wanita penyair yang tersohor. Beberapa syair terlantun dari lisan beliau di saat kematian saudaranya Shakhr di masa jahiliyah, maka beliau meratap dengan ratapan yang menyedihkan, yang akhirnya syair tersebut menjadi syair yang paling terkenal dalam hal syair duka cita. Di antara syair yang bagus yang beliau ciptakan adalah sebagai berrikut.
Menangislah dengan kedua matamu atau sebelah mata
Apakah aku akan kesepian karena tiada lagi penghuni di dalam rumah

Dan di antara syair beliau yang bagus adalah:
Kedua mataku menangis dan tiada akan membeku
Bagaimana mata tidak menangis untuk Shakhr yang mulia
Bagaimana mata tidak menangis untuk sang pemberani
Bagaimana mata tidak menangis untuk seorang pemuda yang luhur

Beliau mendatangi Rasulullah saw bersama kaumnya dari Bani Salim, kemudian mengumumkan ke-Islamannya dan menganut akidah tauhid, amat baik keislaman beliau sehingga menjadi lambang yang cemerlang dalam keberanian, kebesaran jiwa dan merupakan perlambang kemuliaan bagi sosok wanita muslimah.
Rasulullah saw pernah meminta kepadanya untuk bersyair, maka beliau bersyair, Rasulullah saw menyahut, "Wahai Khansa' dan hari-hariku di tangan-Nya."
Ketika Adi bin Hatim datang kepada Rasulullah saw, dia berkata kepada Nabi, "Wahai Rasulullah saw, sesungguhnya di tengah-tengah kami ada orang yang paling ahli dalam syair, ada juga orang yang paling dermawan di antara manusia dan orang yang paling ahli dalam menunggang kuda." Kemudian Nabi saw bersabda, "Siapakah nama mereka?" Adi bin Hatim berkata, "Adapun orang yang paling ahli bersyair adalah al-Qais bin Hajar, sedangkan yang paling dermawan adalah Hatim bin Sa'ad (yakni bapaknya Adi), adapun yang paling ahli dalam berkuda adalah Amru bin Ma'di Karib." Rasulullah saw bersabda, "Tidak benar apa yang kamu katakan wahai Adi, adapun orang yang paling ahli dalam syair adalah Khansa' binti Amru, adapun orang yang paling dermawan adalah Muhammad (yakni Muhammad saw), sedangkan orang yang paling ahli berkuda adalah Ali bin Abu Thalib."
Di samping kelebihan tersebut -hingga karena keistimewaannya dikatakan, 'Telah dikumpulkan para penyair dan ternyata tidak didapatkan seorang wanita yang lebih ahli tentang syair daripada beliau- , beliau juga memiliki kedudukan dan prestasi jihad yang mengagumkan dalam berpartisipasi bagi Islam dan membela kebenaran. Beliau turut menyertai peperangan-peperangan bersama kaum muslimin dan menyertai pasukan mereka yang memperoleh kemenangan.
Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra, Khansa' berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.
Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa' mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan pengarahan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah SWT. Maka, dengarkanlah wasiat al-Khansa' yang mulia tersebut:
"Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada ilah selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana (binasa). Allah Azza wa Jalla befirman, "Wahai orang-orang yang berfirman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 20).
Maka, ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin. Jika kalian melihat perang telah berkecamuk, ketika api telah berkobar, maka terjunlah kalian di medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah (rampasan perang) dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal.
Sementara itu keempat putranya mendengarkan wejangan tersebut dengan penuh seksama, mereka keluar dari kamar ibu mereka dengan menerima nasihatnya dan tekad hatinya untuk melaksanakan nasihat tersebut. Maka, ketika datang waktu pagi, mereka segera bergabung bersama pasukan dan bertolak untuk menghadapi musuh, sedangkan mereka berangkat seraya melantunkan syair. Yang paling besar bersenandung:
Wahai saudaraku, sesungguhnya ibunda sang penasehat
Telah berwasiat kepada kita kemarin malam
Dengan penjelasan yang tenang dan gamblang
Maka bersegeralah menuju medan tempur yang penuh bahaya
Yang kalian hadapi hanyalah
kawanan anjing yang sedang menggonggong
Sedang mereka yakin bahwa dirinya akan binasa oleh kalian
Adapun kalian telah dinanti oleh kehidupan yang lebih baik
Ataukah syahid untuk mendapatkan ghanimah yang menguntungkan

Kemudian dia maju untuk berperang hingga terbunuh. Lalu yang kedua bersenandung:
Sesungguhnya ibunda yang tegas dan lugas
Yang memiliki wawasan yang luas dan pikiran yang lurus
Suatu nasihat darinya sebagai tanda berbuat baik terhadap anak
Maka bersegeralah terjun di medan perang dengan jantan
Hingga mendapatkan kemenangan penyejuk hati
Ataukah syahid sebagai kemuliaan abadi
Di Jannah Firdaus dan hidup penuh bahagia

Kemudian dia maju dan berperang hingga menemui syahid. Lalu giliran putra al-Khansa' yang ketiga bersenandung:
Demi Allah, aku tak akan mendurhakai ibuku walau satu huruf pun
Beliau telah perintahkan aku untuk berperang
Sebuah nasihat, perlakuan baik, tulus dan penuh kasih sayang
Maka, bersegeralah terjun ke medan perang yang dahsyat
Hingga kalian dapatkan keluarga Kisra (kaisar) dalam kekalahan
Jika tidak, maka mereka akan membobol perlindungan kalian
Kami melihat bahwa kemalasan kalian adalah suatu kelemahan
Adapun yang terbunuh di antara kalian adalah kemenangan dan pendekatan diri kepada-Nya

Kemudian, dia maju dan bertempur hingga mendapatkan syahid. Lalu giliran putra al-Khansa' yang terakhir bersenandung:
Bukanlah aku putra al-Khansa, bukan pula milik al-akhram
Bukan pula Amru yang memiliki keagungan
Jika aku tidak bergabung dengan pasukan yang memerangi Persia
Maju dalam kancah yang menakutkan
Hingga berjaya di dunia dan mendapat ghanimah
Ataukah mati di jalan yang paling mulia

Kemudian, dia maju untuk bertempur hingga beliau terbunuh.
Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar, beliau tidaklah menjadi goncang ataupun meratap, bahkan beliau mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah, yakni:
"Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya".
Adalah Umar bin Khaththab mengetahui betul tentang keutamaan al-Khansa' dan putra-putranya sehingga beliau senantiasa memberikan bantuan yang merupakan jatah keempat anaknya kepada beliau hingga beliau wafat.
Kemudian, wafatlah al-Khansa' di Badiyah pada awal kekhalifahan Utsman bin Affan ra pada tahun 24 Hijriyah.
Semoga Allah merahmati al-Khansa' yang benar-benar beliau sebagai seorang ibu yang tidak sebagaimana layaknya ibu yang lain, kalau saja para ummahatul Islam setelahnya semisal beliau, niscaya tiada hilang mereka yang telah hilang, tak akan dapat tidur mata orang yang sedang gelisah.

Sumber: Nisaa' Haular Rasuuli, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Mushtafa Abu Nashr asy-Syalabi

Jumat, 01 November 2013

ALi, Sang Inspirator Uluhiyah



Sayyidina Ali bin Abi Thalib memiliki kepribadian yang penuh inspirasi Uluhiyah atau Ketuhanan. Ali tidak memerlukan proses pengalaman atau tabrakan atau penimbangan dengan dan atas apa pun benda dan peristiwa dalam hidupnya sebagaimana seniornya; Abu Bakar, Umar, dan Usman. Ia tidak perlu menggali ilmu tentang daun dan hujan untuk menemukan kebesaran Allah. Begitu ia memandang daun, yang dijumpainya adalah langsung Allah.
Rasulullah memberikan metafor dengan sabdanya, ''Aku ibarat alun-alunnya ilmu, sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah pintunya (gerbang).''
Pernyataan Rasulullah ini menimbulkan perasaan iri pada kaum Khawarij terhadap Ali. Mereka kemudian mengadakan majelis musyawarah yang dihadiri 10 orang dari kalangan para tokoh. Mereka sepakat menguji Ali: masing-masing akan mengajukan pertanyaan yang sama, tapi harus dijawab oleh Ali dengan jawaban yang berbeda.
Lalu, mereka menemui Ali bin Abi Thalib, masing-masing mengajukan pertanyaan, ''Ya Ali, istimewa manakah antara ilmu dan harta?''
Ali bin Abi Thalib dengan tangkas menjawab pertanyaan mereka satu per satu, yang masing-masing jawaban disertai argumentasi yang berbeda. Jawaban yang disampaikan Ali, yakni: pertama, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Haman, dan Fir'aun.
Kedua, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu selalu menjagamu, sedangkan engkau harus menjaga harta milikmu.
Ketiga, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu banyak kawan, sedangkan orang kaya banyak musuhnya.
Keempat, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu bila diinfakkan (diajarkan) semakin bertambah, sedangkan harta bila diinfakkan semakin berkurang.
Kelima, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu dipanggil dengan sebutan mulia, sedangkan orang berharta dipanggil dengan sebutan hina.
Keenam, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu tidak perlu dijaga, sedangkan harta minta dijaga.
Ketujuh, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu di hari kiamat dapat memberi syafaat, sedangkan orang berharta di hari kiamat dihisab dengan berat.
Kedelapan, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu dibiarkan saja tidak akan pernah rusak, sedangkan harta dibiarkan pasti berkurang (bahkan habis dimakan).
Kesembilan, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu memberikan penerang di dalam hati, sedangkan harta dapat membuat kerusakan di dalam hati (seperti menimbulkan sifat takabur, pamer, dan ingkar).
Kesepuluh, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu bersikap lemah lembut dan selalu berbakti kepada Allah, sedangkan orang berharta seringkali memiliki sifat takabur dan ingkar kepada Allah.
Sepuluh orang tokoh Khawarij yang mengajukan pertanyaan kemudian ditantang oleh Ali bin Abi Thalib: ''Seandainya seluruh kaum Khawarij satu per satu mengajukan pertanyaan 'istimewa mana antara ilmu dan harta' tentu aku akan memberikan argumentasi yang berbeda selagi hayat masih di kandung badan.'' Akhirnya kaum Khawarij mengakui kealiman Ali dan mengakui pula kebenaran sabda Rasulullah. Mereka pun tunduk patuh kepada Ali.
Demikianlah kehebatan Ali, kemenakan dan kader gemblengan Rasulullah. Abu Bakar, Umar, dan Usman, serta kita semua berupaya mencapai ''kota'' itu, memasuki lewat ''pintunya'' dengan cara kita masing-masing untuk memperoleh kemungkinan mendapatkan kemuliaan liqa-u Rabb; untuk mengalami pertemuan agung dengan Allah. Kita melewati ''pintu'', sedangkan Ali adalah ''pintu'' itu sendiri.
Sebagian kita ditakdirkan Allah sejak dinihari kehidupan memperoleh jalan lempang memasuki ''kota ilmu'' Tuhan. Bahkan, ada yang memperoleh rahmat dengan sudah berada di dalamnya tanpa susah payah. Tapi, tak sedikit juga di antara kita yang malah sibuk mencari jalan keluar dari ''kota Tuhan''.
 Sumber : Wawan Susetyo

Kamis, 31 Oktober 2013


DAFTAR PESERTA CATUR  TINGKAT MTS TAHUN PELAJARAN 2013/2014






NO NAMA RATING BINTANG RANKING KET
1 MUTAKIN 1648 BIRU 1 1/11/2013
2 ALDI.R 1635 BIRU 2  
3 ABAS 1621 BIRU 3  
4 JURI 1623 BIRU 4  
5 HAYAT 1603 BIRU 5  
6 PUTRA 1588 HIJAU 6  
7 JEKI 1572 HIJAU 7  
8 ERI 1539 HIJAU 8  
9 WAWAN 1525 HIJAU 9  
10 ANSHAR 1511 HIJAU 10  
11 ARBAIN 1514 HIJAU    
12 MIRLY 1496 HIJAU    
13 IRWANSYAH 1497 HIJAU    
14 ALDI.J 1488 HIJAU    
15 KANDIKA 1469 HIJAU    
16 MUSLIHIN 1470 HIJAU    
17 M.SIDDIQ.K 1455 HIJAU    
18 AHMAD HUSAINI 1403 HIJAU    
19 ZAINI 1402 HIJAU    
















Batu Sopang, 01 Noveber 2013




Pembina Catur
















Marhad Abas, S.Pd.I

Rabu, 30 Oktober 2013

Ali bin Abi Thalib




Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyatakan bahwa dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, sementara Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya ilmu. Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan "gerbang ilmu" dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, "Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?"
"Setuju!" jawab mereka serentak.
"Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja", saran yang lain. "Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas."
"Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!" sahut yang lainnya.
Hari yang telah ditentukan telah tiba. Orang pertama datang menemui Ali lantas bertanya, "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
"Tentu saja lebih utama ilmu," jawab Ali tegas.
"Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir'aun, Namrud dan lain-lainnya," Ali menerangkan.
Setelah mendengan jawaban Ali yang demikian, orang itu kemudian mohon diri. Tak lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
"Lebih utama ilmu dibanding harta," jawab Ali.
"Mengapa?"
"Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya."
Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Orang ketiga pun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya.
"Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?"
Ali kemudian menjawab bahwa, "Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?"
"Mengapa bisa demikian tuan?" tanya orang itu penasaran.
"Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya."
          Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali pun kemudian menjawab, "Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu."
          "Apa yang menyebabkan demikian?" tanya orang itu mendesak.
"Karena bila engkau pergunakan harta," jawab Ali, "jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak."
Orang kelima kemudian datang setelah kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan orang ini, Ali pun menerangkan, "Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani."
Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah, "Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu."
Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, "Pemilik ilmu akan diberi syafa'at oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala di hari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak."
Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga setelah mendengar setiap jawaban, ternyata alasan yang diberikan Ali selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara mereka.
Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, "Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?"
"Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu," jawab Ali.
"Kenapa begitu?" tanyanya lagi.
"Dalam waktu yang lama," kata Ali menerangkan, "harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi."
Orang kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. "Seseorang yang banyak harta", jawab Ali pada orang ini, "akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual."
Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, "Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya."
Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, "Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup."
Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas adalah benar adanya. Dan ali memang pantas mendapat julukan "gerbang ilmu". Sedang mengenai diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi.

sumber: alislam.or.id