Selasa, 29 Oktober 2013

Akibat Menolong seekor Semut



Di suatu desa, ada sebuah keluarga yang hidupnya serba kecukupan dan juga sangat bahagia. Keluarga ini terdiri dari lima orang, dua seorang Istri dan Suami, dan memiliki tiga orang anak, satu anak perempuan, dua anak lelaki. Ibu ini bernama Marinah binti Marsono yaitu, seorang yang hidupnya sederhana, serta selalu taat pada perintah Allah Swt. Di dalam menjalani kehidupanya Marinah selalu menolong orang yang mengalami kesusahan. Marinah kerja sebagai seorang pencuci pakaian orang lain. Sudah jelaslah penghasilannya sangat sedikit.
Hal yang paling menyedihkan pada hidupnya, marinah mengalami suatu musibah yaitu, suaminya telah meninggal dunia akibat penyakit yang yang di derita. Dengan terjadinya Musibah yang menimpa pada diri Marinah inilah, Marinah semakin taat pada Allah dan lebih giat lagi dalam bekerja, guna memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil.
Di suatu hari, seperti biasanya Marinah bekerja mencuci baju orang lain, sedangkan anaknya Marinah titip kan pada orangtuanya. Akhirnya Marinah bekerja dengan tengan dan penuh semangat karena tidak ada yang mengganggunya dalam melaksanakan tugasnya yaitu mencuci baju seperti biasanya. Dan tak pernah lupa juga ia selalu mendirikan Shalat lima waktu, Puasa pada bulan Ramadhan, serta sedekah apabila Marinah mendapatkan rezeki yang lebih dari pada cuku untuk membeli keperluan anaknya, dan melaksanakan amalan-amalan lainya seperti menolong orang lain yang membutuhkan pertolongannya.
Pada suatu ketika Marinah melihat seekor semut yang hampir saja akan di injak orang seorang manusa yang sedang berjalan. Lalau Marinah menolong dan menyelamatkan semut itu.
Setelah satu bulan penuh, Marinah menjadi seorang yang hidupnya serba kecukupan, namun dengan hidup kecukupan itu Marinah masih tetap menjadi seorang Wanita yang dermawan.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, Marinah semakin tua. karena umur semakin tuan Marinahpun mengalami penyakit yang sangat parah. Dengan penyakit yang diteritanya. Marinah Jatuh sakit. Beberapa Minggu kemudian Marinah telah menghadap Allah Swt. “Inna lil lahi Wainna Ilaihi Roziun”.
Tapi sebelum marinah meninggal dunia. Marinah memberi dua wasiat pada orangtuanya. Pertama supaya dia kelak di semawamkan di dekat kuburan Suaminya. Dan kedua supaya ayah dan ibunya menjaga Anak-anak Marinah yang di tinggalkannya.
Singkatnya cerita Marinah meninggal dunia pada hari hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan 1024 H. dan di semawamkan di dekat kuburan Suaminya yang tercinta.
Pada suatu malam, sang Ayah bermimpi bertemu dengan Anaknya / Marinah, di suatu tempat yang sangat indah dan harus semerbah seperti harumnya bunga kesturi pastilah ini adalah surga. Ayahnya bertanya pada Marinah,”Tempat apakah ini?” Ini adalah Surga yang dijanjikan Tuhan pada Hamba-hambanya yang selalu taat pada sang Maha Pencipta, yaitu Allah Swt. Ayah pun bertanya lagi. “Apa yang menyebabkan Marinah masuh surga ini?”Apakah, karena kamu dulu sering beribadah pada Tuhan dan Menolong pada orang lain?”. Marinah berkata.” Bukan wahai Ayah handaku”! yang menyebabkan aku masuh surga ini adalah, karena aku dulu sewaktu didunia menyelamatkan se ekor semut yang hampi ke injak oleh seorang manusia yang berjalan. Dan karena amalan inilah saya oleh tuhan di masukkan kedalam surga ini.

Aku Berjuang Bukan Untuk Umar


 
“Orang seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya ke dalam golongan pemimpin”. (Perkataan Rasulullah tentang Khalid bin Walid).
Entah apa yang ada di benak Khalid bin Walid ketika Abu Bakar menunjuknya menjadi panglima pasukan sebanyak 46.000. Hanya ia dan Allah saja yang tahu kiranya. Khalid tak hentinya beristigfar. Ia sama sekali tidak gentar dengan peperangan yang akan ia hadapi. 240.000 tentara Bizantin. Ia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatan itu. Kaum muslimin tengah bersiap menyongsong Perang Yarmuk sebagai penegakan izzah Islam berikutnya.
Hampir semua tentara muslim gembira dengan penunjukkan itu. Selama ini memang Khalid bin Walid adalah seorang pemimpin di lapangan yang tepat. Abu Bakar pun tidk begitu saja menunjuk pejuang yang berjuluk “Pedang Allah” itu. Sejak kecil, Khalid dikenal sebagai seorang yang keras. Padahal ia dibesarkan dari sebuah keluarga yang kaya. Sejak usia dini, ia menceburkan dirinya ke dalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya ke dalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang. Konon, hanya Khalid bin Walid seorang yang pernah memorak-porandakan pasukan kaum muslimin, semasa ia masih belum memeluk Islam.
Khalid bin Walid sekarang memutar otak. Bingung bukan buatan. Tentara Bizantin Romawi berkali-kali lipat banyaknya dengan jumlah pasukan kaum muslimin. Ditambah, pasukan Islam yang dipimpinya tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih dan rendah mutunya. Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjatakan lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Dan mereka akan berhadapan di dataran Yarmuk. Tentara Romawi yan hebat itu berkekuatan lebih dari 3 lakh serdadu bersenjata lengkap, diantaranya 80.000 orang diikat dengan rantai untuk mencegah kemungkinan mundurnya mereka. Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 46.000 orang itu, sesuai dengan strategi Khalid, dipecah menjadi 40 kontingen untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar daripada musuh.
Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab Utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian, depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraclus sebagai ketua tentara Romawi telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan. Romawi juga menggunakan taktik dan strategi tetsudo (kura-kura). Jenis tentara Rom dikenal sebagai ‘legions', yang satu bagiannya terdapat 3000-6000 laskar berjalan kaki dan 100-200 laskar berkuda. Ditambah dengan dan ‘tentara bergajah'. Kegigihan Khalid bin Walid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.
Tentara kaum muslimin jelas sangat bersuka cita. Semua mengucapkan syujur kepada Allah swt. Namun semua orang juga tertuju kepada sang panglima, Khalid bin Walid. Strateginya telah memberikan kemudahan bagi kaum muslimin. Hampir semua orang menyebut-nyebut dan memuji Khalid bin Walid.
Sisa-sisa perang Yarmuk belum lagi hilang. Kegembiraan kaum muslimin pun belum juga sirna. Di tengah-tengah itu datang lah utusan dari Umar bin Khattab. Umar yang telah menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar merasa khawatir, kekaguman kaum muslimin terhadap Khalid bin Walid terlalu berlebihan. Khawatir akan mempengaruhi perjuangan Khalid. Maka, Umar pun menunjukkan seseorang yang jauh lebih muda daripada Khalid untuk menggantikannya, Abu Ubaidah. Dibandingkan dengan Khalid bin Walid, Abu Ubaidah masih belum apa-apa.
Khalid bin Walid terdiam. Sepenuhnya ia memahami penggantian itu. Ia sama sekali tidak terpengaruh. Orang-orang sempat terdiam ketika panglima besar itu berujar dengan tegas, “Aku berperang bukan untuk Umar. Tapi untuk Islam.” Setelah itu, Khalid terus ikut berjuang membela Islam seperti biasanya. Tidak terpengaruh oleh penurunan pangkatnya. Untuk Islam, hatinya senantiasa ikhlas, karena apapun yang ia lakukan – besar ataupun kecil, jika itu untuk Allah, akan berbuah surga.
Wallahu A' lam bish Shawab
--------
Penulis/Sumber : Majalah Saksi
Pengirim : Ayu Shafiyah

Akan Datang Penghuni Surga



Di suatu hari Nabi sedang duduk di Masjid bersama para sahabatnya. Tiba-tiba Nabi berseru, "akan datang penghuni surga."
Serentak para sahabat memandang ke arah pintu.
Ternyata datanglah seorang sahabat yang memberi salam pada mejelis Nabi lalu shalat.
Keesokan harinya lagi, pada sitausi yang sama, Rasul berseru,
"Akan datang penghuni surga." Tiba-tiba hadir dari arah pintu sahabat yang kemaren juga digelari Rasul penghuni surga.
Selepas bubarnya mejelis Nabi, seorang sahabat mengejar "penghuni surga" tersebut. Ia berkata, "maafkan saya wahai saudaraku. Aku bertengkar dengan keluargaku bolehkah aku
barang satu-dua hari menginap di rumahmu?"
"Penghuni surga" ini lalu berkata, "baiklah..." Satu hari berlalu, dua hari berlalu dan tiga hari pun berlalu. Akhirnya sahabat ini tak tahan dan berkata pada "penghuni surga". "Wahai saudaraku sebenarnya aku telah berbohon padamu. Aku tak bertengkar dengan keluargaku.
Aku bermalam di rumahmu untuk melihat apa amalanmu karena aku mendengar rasul menyebutmu penghuni surga. Tapi setelah aku perhatikan amalan mu sama dengan apa yang aku kerjakan. Aku jadi tak mengerti..."
"Penghuni surga" itu menjawab, "maafkan aku, memang inilah aku! Ibadah yang aku jalankan tidak kurang- tidak lebih sebagaimana yang engkau saksikan selama tiga hari ini. Aku tak tahu mengapa Rasul menyebutku "penghuni surga".
Sahabat itu lalu pergi meninggalkan "penghuni surga". Tiba-tiba "penghuni surga" itu memanggil sahabat tersebut. "Saudaraku, aku jadi teringat sesuatu. Aku tak pernah dengki pada sesama muslim.
Mungkin ini......"
Sahabat tersebut langsung berseru, "ini dia yang membedakan engkau dengan kami. Ini dia rahasianya mengapa Rasul menyebutmu penghuni surga. Ini yang tak dapat kami lakukan."
Ternyata, soal dengki ini bukan persoalan sepele. Ada seorang tukang sate di tempat saya. Alhamdulillah satenya yang memang empuk itu laris bukan main. Tetangganya mulai mencibir dan menuduh si Tukang sate memelihara tuyul. Ketika anak si Tukang Sate kecelakaan, lagi-lagi tetangganya mencibir, "rasakan! itulah tumbal akibat main tuyul!"
Lihatlah kita. Apakah kita bertingkah laku persis tetangga Tukang Sate tersebut? Kita tak rela kalau saudara kita memiliki nilai "lebih" di mata kita. Repotnya, rumput tetangga itu biasanya terlihat lebih "hijau" dibanding rumput kita. Kita dengki dengan keberhasilan saudara kita.
Ada seorang wanita karir yang berhasil. Karena beban kerjanya dia sering kerja lembur sampai baru pulang saat larut malam. Tetangganya menuduh ia wanita jalang. Ketika dari hasil jerih payahnya ia mampu membeli mobil, tetangganya ribut lagi, kali ini ia disebut "simpanan seorang bos".
Masya Allah! Bukannya belajar dari keberhasilan saudara kita tersebut, kita malah mencibir dan menuduhnya yang bukan-bukan.
Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki biasanya lahir buruk sangka, kemudian dari buruk sangka biasanya lahir fitnah dan tuduhan, untuk menyebarkan fitnah ini kita
bergosip kemana-mana sambil menggunjingkan perilaku orang tersebut.
Lihatlah, bermula dari dengki kemudian menyusul perbuatan dosa yang lain!
Sulit sekali menghilangkan rasa dengki tersebut. Untuk itu marilah kita minta perlindungan-Nya:
"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan KEDENGKIAN dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS 59:10)

Senin, 28 Oktober 2013

Airmata Rasulullah Saw




Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
NB: Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin... Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.

Abu Dzar Al-Ghaffari




Diceritakan dalam riwayat yang berbeda oleh Ibn Al-Mubarok dalam dua kitabnya Al-Birr dan As-Shalah bahwa terjadi ketidaksepakatan antara Abu Dzar dan Bilal. Abu Dzar kemudian berkata kepada Bilal "Kamu anak seorang budak hitam". Rasulullah yang mendegar ini sangat marah, lalu beliau mengingatkan Abu Dzar dengan sabdanya. "Ini keterlaluan wahai Abu Dzar, orang yang ibunya berkulit putih tidak memiliki kelebihan yang membuatnya lebih baik daripada seorang yang ibunya berkulit hitam".
Peringatan Rasulullah ini meninggalkan pengaruh yang teramat dalam pada diri Abu Dzar. Beliau kemudian meletakkan kepalanya di tanah dan bersumpah bahwa beliau tidak akan mengangkatnya sebelum Bilal menginjakkan kakinya di atas kepalanya.
Peristiwa itu tertuang pula pada riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa, Rasulullah SAW bersabda "Orang berkulit merah tidak lebih baik dari orang berkulit hitam kecuali dalam hal ketaqwaanya. Umat manusia adalah anak cucu adam dan adam diciptakan dari tanah". Demikianlah sikap Abu Dzar yang perlu kita tauladani dengan menyadari kekeliruan sikap yang menonjolkan keturunan, kesukuan dan bangsanya.

Abdullah bin Abbas




Di antara sahabat-sahabat RasuluLlah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang ketika melafadzkan syahadat mereka berusia sangat muda, atau ketika mereka dilahirkan, ayah bunda mereka telah muslim. Perhatian RasuluLlah SAW kepada para sahabat cilik ini, tidak berbeda dengan sahabat-sahabat yang lainnya. Bahkan beliau sangat memperhatikan mereka dan meluangkan waktu untuk bermain, bicara dan menasehati mereka.
AbduLlah bin Abbas (Ibnu Abbas) adalah salah satu kelompok sahabat junior ini. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Semenjak kecilnya, beliau sudah menunjukkan kecerdasan dan kesungguhannya terhadap suatu masalah. RasuluLlah mengetahui potensi besar yang ada pada anak muda ini, seperti halnya beliau melihat potensi yang sama pada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan sahabat-sahabat cilik lainnya.
RasuluLlah SAW sering terlihat berdua bersama si kecil AbduL lah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, RasuluLlah SAW mengajak Ibnu Abbas RA berjalan-jalan seraya menyampaikan tarbiyahnya kepada pemuda cilik ini:
"Ya ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat yang sangat berguna?
Jagalah ALlah SWT (ajaran-ajaranNya), maka engkau akan menda patkanNya selalu menjagamu. Jagalah ALlah SWT (larangan-laranganNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu dekat di hadapanmu. Kenalilah ALlah dalam sukamu, maka ALlah akan mengenalimu dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada ALlah. Jika engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada ALlah. Semua hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis. Ketahuilah, seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditaqdirkan ALlah untukmu, mereka tidak akan mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi untuk menghalangi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakan lah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar dalam musibah itu akan memberikan hasil positif; dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu tiba setelah kesulitan.  [HR Ahmad, Hakim, Tirmidzi]
Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan 'amal yang manakah hasil tarbiyah RasuluLlah itu? AbduLlah bin Abbas tumbuh menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat dengan ALlah dan Rasul-Nya.
Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara RasuluLlah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya: ummahatul mu'minin, Maimunah bint al-Harist. Ketika itu ia melihat RasuluLlah bangun tengah malam dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana RasuluLlah berwudhu. RasuluLlah - sang murobbi agung itu - tidak menyepele kan hal ini, beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas, seraya mendo'akan: "Ya ALlah, faqih-kanlah ia dalam perkara agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu."
Kemudian RasuluLlah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang RasuluLlah SAW; tetapi RasuluLlah kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya. Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan RasuluLlah, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, RasuluLlah memper tanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan ALlah SWT. RasuluLlah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi do'anya ketika berwudhu tadi.
Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, RasuluLlah wafat. Beliau sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya bersedih atau lemah. Dengan segera ia mengajak teman sebayanya untuk bertanya dan belajar pada sahabat-sahabat senior mengenai apa saja yang berkenaan dengan RasuluLlah dan ajaran al-Islam. Logika Ibnu Abbas, saat itu mengatakan bahwa para sahabat masih berada di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan informasi dari mereka, sebelum mereka berpencaran ke kota-kota lain atau sebelum mereka wafat. Namun sayang, ajakan ini tidak ditanggapi oleh rekan-rekan sebayanya, karena mereka rata-rata beranggapan bahwa para sahabat senior tidak akan memperhatikan pertanyaan anak-anak kecil macam mereka.
Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia tanyakan. Dengan sabar, beliau menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau da'wahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebetulan sedang beristirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di depan pintu rumahnya, hingga tertidur, tergolek beralaskan pakaiannya. Tentu saja para sahabat terkejut menemui Ibnu Abbas tertidur di muka rumahnya, "Oh keponakan RasuluLlah, ada apa gerangan? Kenapa tidak kami saja yang datang menemuimu, bila engkau ada keperluan?" "Tidak,"kata Ibnu Abbas, "sayalah yang harus datang menemui anda."
Demikianlah masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa dewasanya? Beliau katakan sebagai seorang muda yang berwawasan dewasa, yang lisannya selalu bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syuro'nya dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat. Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas, dengan selalu berada dalam kalangan sahabat senior.
Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, beliau berga bung dengan pasukan muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara, di bawah pimpinan AbduLlah bin Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam pertempuran dan juga dalam da'wah di sana. Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk menemui dan berda'wah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.
AbduLlah bin Abbas, yang muda yang ulama, wafat dalam usia 71 tahun pada tahun 68H. Sahabat Abu Hurairah RA, berkata "Hari ini telah wafat Ulama Ummat. Semoga ALlah SWT berkenan memberikan pengganti AbduLlah bin Abbas."

Wassalamu'alaikum

Senin, 07 Oktober 2013

Selalu berusaha memperbaiki diri

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua, di pagi yang dingin ini penulis ingin berbagi dengan teman-teman semua, dengan tema yang sangat sederhana yaitu " berusaha memperbaiki diri" adalah sebuah keberuntungan bagi kita dalam hidup yang dengan kesibukan yang luar biasa, sebab kehidupan yang kita jalani sekarang ini menuntut kita untuk berpikir cepat, dan efesien.Tetapi ditengah kesibukan kita, kita harus berusaha untuk memberikan waktu untuk meningkatakan kualitas dalam perbaikan diri, dengan cara yang bermacam-macam, seperti memperbaiki kualitas kejujuran kita, sebab sekarang menjadi orang yang jujur langka di negeri ini, banyak orang yang sudah melupakan arti sebuah kejujuran, karena keserakahan hidup yang sifatnya sementara, selanjutnya perbaikan kualitas ibadah, ingat hidup di dunia hanya sebentar saja, yah paling lama 70 tahun itu udah dapat discount, jadi gunakan waktu yang masih tersisa dengan meningkatkan ibadah untuk menuju masa yang kekal ( akhirat) seperti berdzikir, bershalawat, syukur,sedekah dan masih banyak lagi .kemudian memperbaiki kualitas keilmuan kita ( continue improvment) jangan merasa puas dengan ilmu yang kita miliki sekarang, karena semakin cerdas kita maka semakin berguna bagi diri sendiri, keluarga , masyarakat dan bahkan bagi nusa dan bangsa. jadi teruslah melakukan perbaikan-perbaikan semoga kita menjadi orang yang lebih bermanfaat di hari yang akan datang, Wasssalam.